Jakarta, CNN Indonesia --
Google berencana merilis 32 juta nyamuk yang telah disteril di California dan Florida untuk menekan populasi nyamuk pembawa penyakit.
Sebagai bagian dari program Debug, Google memanfaatkan keahlian teknologinya untuk membudidayakan koloni nyamuk jantan steril guna mengurangi populasi serangga penyebar penyakit.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyamuk merupakan hewan paling mematikan di dunia yang menewaskan lebih banyak orang daripada makhluk hidup lainnya di dunia setiap tahun. Hewan ini memakan korban melalui penyebaran penyakit mematikan seperti demam berdarah, virus West Nile, Zika, chikungunya, dan malaria.
Sebuah pengumuman dari Federal Register menunjukkan bahwa Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) sedang meninjau permohonan Google untuk melepaskan hingga 16 juta nyamuk setiap tahunnya, di Florida dan California, selama dua tahun.
EPA akan memutuskan apakah akan menyetujui permohonan Google untuk izin penggunaan eksperimental setelah masa komentar publik berakhir pada 5 Juni.
Nyamuk jantan tidak menggigit atau membawa penyakit. Salah satu pendekatan utama yang sedang diuji Google melibatkan pembiakan nyamuk jantan dengan bakteri alami bernama Wolbachia, yang mencegah mereka bereproduksi dengan nyamuk betina liar.
Ketika nyamuk jantan yang terinfeksi mencoba kawin dengan nyamuk betina liar, telurnya tidak akan menetas.
Metode penyebaran nyamuk Wolbachia untuk menekan kasus DBD juga pernah dilakukan di Indonesia, khususnya di DI Yogyakarta. Pada 2023, Kota Yogyakarta mencatatkan rekor kasus DBD terendah dengan 67 kasus sejak nyamuk Wolbachia bergentayangan di kota tersebut.
Yogyakarta menjadi kota pertama di Indonesia yang mengimplementasikan teknologi nyamuk ber-Wolbachia dalam pemberantasan kasus DBD.
Sejak dalam skala luas pada 2016, angka kasus DBD di Yogyakarta disebut menurun. Pada 2016 terdapat 1.700 kasus DBD, dan pada 2023 hanya terjadi 67 kasus.
Kemudian, pada 2024, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga melepas nyamuk Wolbachia di Kecamatan Kembangan Utara, Kembangan, Jakarta Barat.
Kembangan dipilih sebagai lokasi pertama pelepasan atau penyebaran nyamuk ber-Wolbachia karena memiliki angka kasus DBD tertinggi pada 2023 dengan tingkat insiden (incidence rate) 54,1 per 100.000 penduduk.
Google menjelaskan dalam sebuah posting blog bahwa meteode ini membuat "populasi nyamuk akan berkurang setiap generasi."
Meski terdengar tidak biasa bagi perusahaan teknologi raksasa untuk terjun ke laboratorium dan membiakkan nyamuk yang terinfeksi bakteri, perusahaan induk Google, Alphabet, sebenarnya sudah tidak asing lagi dengan dunia sains.
Verily Health, sebuah perusahaan di bidang kesehatan dan kecerdasan buatan yang bermula sebagai proyek "moonshot" di Google X, telah menjadi penggerak utama di balik program Debug selama bertahun-tahun.
Verily menggunakan teknologi dan ilmu data untuk memerangi penyakit serta masalah kesehatan global lainnya.
Per Desember 2024, Google telah sepenuhnya mengakuisisi Debug, sehingga program tersebut dikeluarkan dari portofolio Verily.
Sebuah posting blog tahun 2016 untuk proyek Debug menyebutkan bahwa program tersebut mulai mengeksplorasi solusi berbasis teknologi untuk memerangi nyamuk mematikan sekitar satu dekade lalu.
Dikutip dari The Guardian, Google mengatakan cara-cara lain untuk memberantas nyamuk belum berhasil, seperti menyemprotkan pestisida bisa beracun dan kurang efektif seiring waktu, serta sulit untuk menemukan dan membersihkan semua sumber air yang telah menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Untuk saat ini, Google memfokuskan upaya awalnya pada satu spesies nyamuk yang dikenal sebagai Aedes aegypti, yang menjadi penyebab penyebaran sebagian besar kasus demam berdarah, Zika, demam kuning, dan chikungunya.
(lom/lom)
Add
as a preferred source on Google

12 hours ago
2

















































