Selular.ID – Ada cara yang lebih baik supaya pemerintah bisa tepat sasaran memberikan subsidi bahan bakar minyak atau BBM, dari pada menggunakan teknologi barcode atau QR Code Subsidi Tepat Pertamina.
Cara tersebut diungkapkan pengamat sekaligus Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky.
Riefky mengomentari penggunaan teknologi barcode atau QR Code Subsidi Tepat masih membuat Pertamina sering kecolongan untuk menerapkan pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi tepat sasaran.
Kejadian kebocoran pembelian BBM subsidi dari penerapan barcode ini masih sering terjadi karena banyak masyarakat yang masih awam teknologi.
“Barcode ini kan berbasis teknologi sedangkan tidak semua masyarakat menggunakan teknologi, smartphone misalnya,” ujar Riefky.
Dia menambahkan pemerintah memberikan subsidi BBM dari APBN ini untuk masyarakat miskin dan rentan miskin, tetapi masyarakat miskin dan rentan miskin ini kebanyakan tidak melek teknologi.
“Jadi akan sulit untuk menjangkau seluruh masyarakat miskin dan rentan. Saya tidak yakin ini lebih tepat sasaran juga,” ungkapnya.
Namun, Riefky memberikan solusi supaya subsidi BBM ini bisa tepat sasaran dan langsung tertuju kepada warga negara Indonesia yang berada di garis kemiskinan dan rentan miskin.
“Sebenarnya ada cara yang lebih sederhana dan efektif adalah dengan cara langsung memberikan bantuan tunai dengan cara transfer langsung ke masyarakat miskin,” tegasnya.
Kenaikan BBM Non Subsidi Tidak Pengaruhi Penjualan Mobil Listrik
Sebelumnya per tanggal 18 April 2026, Pertamina resmi menaikkan harga BBM non-subsidi dengan kenaikan signifikan pada jenis Turbo dan Diesel.
Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp 19.400/liter, Dexlite Rp 23.600/liter, dan Pertamina Dex Rp 23.900/liter di wilayah Jabodetabek.
Baca juga:
- Pengamat Sebut Penjualan Mobil Listrik Tidak Terdongkrak dari Kenaikan BBM Non Subsidi
- Di Saat BBM Non Subsidi Naik, Pemerintah Justru Bahas Aturan Pajak Mobil Listrik
Sementara itu, untuk dua jenis BBM non subsidi masih tetap yakni harga Pertamax (RON 92) tetap Rp 12.300/liter dan Pertamax Green 95 Rp 12.900/liter.
Lalu harga BBM subsidi juga masih tetap, yakni Pertalite (RON 90) Rp 10.000 per liter dan Biosolar/Solar Rp 6.800 per liter.
Dengan kenaikan harga BBM non subsidi ini, ada kemungkinan besar terjadinya kebocoran lagi untuk penjualan BBM subsidi.
Pasalnya, pemilik mobil yang seharusnya menggunakan BBM non subsidi bisa saja main belakang untuk membeli BBM subsidi.
Selain itu, Riefky juga menjelaskan meski harga BBM non subsidi naik tinggi dan akan membuat harga mobil bekas berbahan bakar fosil turun, tetapi tidak akan berdampak banyak ke penjualan mobil listrik
Riefky menyebutkan alasan kenapa penjualan mobil listrik tidak akan melonjak di saat adanya kenaikan harga BBM non subsidi yang membuat harga mobil mewah bekas kemungkinan turun harga.
“Alasannya karena daya beli masyarakat masih relatif stagnan,” ujar Riefky saat dihubungi Selular, Selasa (21/4/2026).
Dengan kenaikan harga BBM non subsidi hingga adanya gejolak geopolitik ini membuat masyarakat masih menahan untuk perilaku konsumsi mereka.
“Hal tersebut yang saya rasa akan membuat penjualan mobil listrik tidak naik signifikan,” tandasnya.



















































