Jakarta -
Pernikahan beda agama antara Marcell Siahaan dan artis Malaysia, Rima Melati, ternyata menyimpan cerita perjuangan yang tak banyak diketahui publik.
Rima mengaku sempat mendapat konsekuensi serius dari keluarganya di Malaysia setelah memutuskan menikah secara sipil dengan Marcell.
Dalam perbincangan tersebut, Rima menjelaskan bahwa saat menikah, keduanya masih berbeda keyakinan dan tidak ada paksaan untuk berpindah agama.
"Ketika kita menikah itu kita civil marriage. Jadi beda agama. Jadi dia tetap dengan agamanya dia. Rima tetap dengan agamanya dia," ungkap Rima saat bincang dengan Melaney Ricardo di YouTube, Senin (2/3).
Saat itu, Marcell masih beragama Buddha, sementara Rima seorang Muslim.
"Dia budhis. Rima muslim," ujarnya.
Keputusan itu rupanya menimbulkan gejolak di lingkungan keluarga Rima yang memiliki latar belakang kuat di dunia seni di Malaysia. Ia mengaku sampai mendapat perlakuan tidak menyenangkan.
"Di situlah Rima di-blacklist sebetulnya dari Malaysia," ungkap Rima.
Rima tidak merinci secara detail bentuk pemboikotan tersebut, tetapi ia mengisyaratkan bahwa keputusan menikah beda agama menjadi sorotan besar, terutama karena latar belakang keluarganya yang cukup dikenal.
Meski menghadapi tekanan, Rima tetap pada prinsipnya. Ia tidak ingin memaksa Marcell untuk memeluk Islam demi pernikahan. Pengalaman masa lalu membuatnya lebih berhati-hati dalam menyikapi persoalan keyakinan pasangan.
"Rima merasa bersalah untuk orang mualaf terus pisah, dia jadi hanging gitu loh," katanya.
Karena itu, ia memberi kebebasan penuh kepada Marcell untuk menemukan jalannya sendiri.
"So I told Marcel, 'You find your way, but I don't want you to think Islam is apa ya?'" jelasnya.
"I don't wanna force you." tambahnya kala itu.
Setelah lima tahun menjalani rumah tangga beda agama, Marcell akhirnya memutuskan menjadi mualaf atas kesadaran pribadi.
"Pada akhirnya ketemu sama sheikh and then he was converted by a sufi sheikh," ujarnya.
Di balik kisah cinta mereka, terselip cerita tentang tekanan sosial, keluarga, dan pilihan hidup yang tidak mudah.
Namun bagi Rima, yang terpenting dalam rumah tangga bukanlah label agama, melainkan nilai yang dijalani setiap hari.
"Yang Rima selalu pentingkan dalam keluarga itu atau dalam rumah tangga itu adalah be good and do good," katanya.
Ia pun menutup dengan satu pernyataan yang tegas,
"Agamanya enggak masalah, manusianya kan yang masalah sebetulnya," jelasnya.
Kisah Rima menjadi gambaran bahwa keputusan menikah beda agama bukan hanya soal dua individu, tetapi juga tentang keberanian menghadapi konsekuensi sosial yang menyertainya.
(ikh/ikh)
Loading ...

3 hours ago
1

















































