Diklaim Lebih Ramah Lingkungan, Kompos Jasad Manusia Kini Jadi Tren

8 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Jasad orang yang meninggal dunia umumnya dikubur atau dikremasi. Namun, kini muncul alternatif baru yang diklaim lebih ramah lingkungan, yakni pengomposan jasad manusia.

Metode ini mengubah jasad menjadi tanah dalam waktu relatif singkat. Secara alami, proses tersebut sebenarnya juga terjadi ketika seseorang dikubur, tetapi pengomposan manusia mempercepat mekanismenya. Proses ini meniru apa yang terjadi di hutan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Apa yang kami lakukan adalah mempercepat proses yang sepenuhnya alami," ujar CEO Earth Funeral, Tom Harries, seperti dikutip dari CNN.

Pengomposan manusia dianggap sebagai pilihan yang lebih bersahabat dengan iklim dan Bumi. Metode ini menghasilkan emisi karbon yang jauh lebih rendah dibandingkan kremasi dan tidak menggunakan bahan kimia pengawet seperti pada pemakaman tradisional.

Salah satu keluarga yang memilih metode ini adalah Laura Muckenhoupt. Ia mengomposkan jasad putranya, Miles, yang meninggal dunia pada usia 22 tahun.

"Kami akan membesarkannya. Kami akan terus menjadi orang tuanya, saudara perempuannya, dan teman-temannya," ungkap Muckenhoupt.

Di tengah duka mendalam, mengetahui bahwa tanah hasil pengomposan Miles melambangkan sebuah awal baru memberikan sedikit penghiburan baginya.

Dalam beberapa tahun berikutnya, tanah tersebut telah dibagikan dan ditanami di berbagai tempat, termasuk Indonesia dan Tuscany. Tanah Miles digunakan untuk menumbuhkan pohon markisa di Portugal dan pakis di Hawaii.

Menurut Muckenhoupt, hal ini sangat mencerminkan kepribadian Miles, seorang penari yang tumbuh dekat dengan alam.

Di rumahnya, sebagian tanah Miles dimanfaatkan untuk menanam semak mawar di taman, sementara sisanya disimpan di area penanaman di halaman belakang.

"Setiap kali semak mawar itu mekar, Anda menantikannya dengan penuh harap," kata Muckenhoupt.

"Ini seperti sebuah hadiah, kunjungan kecil darinya, dan rasanya sangat indah," tambahnya.

Cara kerja pengomposan manusia

Harries mengaku ide pengomposan manusia muncul setelah bertahun-tahun berkecimpung di industri pemakaman.

"Salah satu hal yang saya sadari adalah bahwa saya tidak cocok secara pribadi ingin dikubur dan juga tidak ingin dikremasi," ujarnya.

Menurut Harries, kremasi telah menjadi pilihan utama selama beberapa dekade terakhir karena lebih murah dan praktis dibandingkan pemakaman tradisional. Data Asosiasi Kremasi Amerika Utara menunjukkan sekitar 60 persen jenazah di Amerika Serikat dikremasi.

Namun, kremasi berdampak buruk bagi iklim karena membutuhkan gas alam dalam jumlah besar untuk menyalakan tungku pembakaran. Sementara itu, pemakaman konvensional menggunakan bahan kimia seperti formaldehid dalam proses pembalseman.

Pengomposan manusia berlangsung relatif singkat. Jenazah dibungkus kain kafan yang dapat terurai secara hayati, lalu ditempatkan dalam kapsul logam memanjang yang diisi campuran serpihan kayu, mulsa, dan bunga liar.

"Dalam wadah tertutup, tubuh diselubungi dengan campuran bahan alami seperti serpihan kayu dan jerami. Lebih dari sebulan atau lebih, pembuluh memanas dari mikroba aktif yang mulai memecah tubuh. Kipas meniup oksigen ke dalam wadah, yang secara teratur diputar untuk mengaktifkan kembali mikroba," tulis National Geographic.

Selama proses penguraian, tubuh melepaskan nitrogen, sementara bahan organik tambahan menyediakan karbon. Dengan suhu yang dijaga optimal, kondisi ini memungkinkan mikroba mengurai tubuh hingga tingkat molekuler.

Dalam waktu sekitar 45 hari, proses tersebut menghasilkan sekitar 136 kilogram tanah kaya nutrisi. Keluarga dapat membawa pulang tanah tersebut sesuai keinginan, sementara sisa tanah akan disalurkan Earth Funeral ke proyek konservasi di Washington dan California.

Praktik pengomposan manusia kini semakin meluas setelah dilegalkan di 12 negara bagian Amerika Serikat, dengan delapan negara bagian lainnya masih dalam proses pengesahan rancangan undang-undang serupa.

(wpj/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi