Jakarta -
Malas menjadi hal yang wajar dirasakan oleh setiap manusia. Perilaku itu membuat kita enggan melakukan aktivitas meskipun mampu.
Mulai dari malas bekerja, beribadah, hingga berolahraga. Dalam informasi dari laman Berkeley Well Being Institute pada buku karya psikolog sosial Devon Price yang berjudul Laziness Does Not Exist, kemalasan adalah sifat kepribadian yang nyata.
Rasa malas biasanya dipicu oleh faktor seperti rasa cemas, depresi hingga rendahnya harga diri. Jika terus dibiarkan, kemalasan pun akan memberikan efek yang kurang baik pada diri sendiri dan dapat merugikan orang sekitar.
Mereka yang dikuasai oleh rasa malas cenderung memiliki sifat menghindari tanggung jawab hingga dapat berdampak buruk bagi kesehatan bagi mereka yang malas melakukan olahraga.
Rasa malas atau kurang gerak bahkan menjadi risiko utama dari berbagai penyakit serius baik fisik maupun mental. Kebiasaan ini meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung hingga penurunan fungsi kognitif.
Dalam agama, Islam sangat mengutuk seorang yang pemalas. Islam menekankan kepada para pemeluknya untuk rajin bekerja dan berolahraga demi menyehatkan tubuh dan pikiran. Dalam Islam, rasa malas disebut sebagai futur yang istilahnya merujuk pada hilangnya gairah yang merupakan penyakit berbahaya.
Hal itu bahkan bisa menyebabkan lepasnya ikatan agama secara perlahan hingga semuanya terlepas. Dalam Kitabul Ilmi oleh Syaikh Muhammad bi Shalih Al Utsamin, futur dalam beribadah dan melakukan kebaikan merupakan sebuah penyakit. Adapun 11 penyebab malas di dalam Islam sebagai berikut:
- Hilangnya keikhlasan
- Lemahnya ilmu syar'i
- Kecintaan Hari yang besar pada dunia
- Fitnah atau cobaan berupa istri dan anak
- Hidup di tengah masyarakat yang rusak
- Berteman dengan orang-orang yang punya keinginan lemah dalam melakukan kebaikan
- Melakukan dosa dan memakan makanan yang haram
- Tak punya tujuan yang jelas
- Imannya lemah
- Menyendiri dan tak mau bergabung dengan saudara seiman
- Lemahnya pendidikan (tarbiyyah) imaniyyah
Sehingga rasa malas pun harus segera 'diobati' agar bisa melakukan kebaikan secara maksimal. Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan sebuah doa yang bisa dipanjatkan untuk mengatasi rasa malas yang datang.
Dalam Shahih Bukhari, dikatakan doa yang dipanjatkan Nabi SAW untuk berlindung dari rasa malas, sebagai berikut:
حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ
Artinya:
"Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Saya berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Saya berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan Saya berlindung kepada Engkau dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia."
(agn/dia)
Loading ...

7 hours ago
2

















































