#USTAZTANYADONG
CNN Indonesia
Sabtu, 28 Feb 2026 15:00 WIB
Ilustrasi. Marah dan emosi saat puasa memang tidak membatalkan, tapi mengurangi pahala. (iStock/pcess609)
Jakarta, CNN Indonesia --
Menahan lapar dan haus sejak terbit fajar hingga terbenam matahari memang tidak mudah. Namun, tantangan terbesar puasa kerap bukan pada perut yang kosong, melainkan pada hati yang mudah tersulut emosi.
Lalu, bagaimana hukumnya jika seseorang marah-marah saat berpuasa? Apakah puasanya batal, atau hanya sekadar mengurangi pahala?
Dalam program Ramadan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah soal emosi yang meledak di tengah ibadah puasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Ustaz Wahyul, marah saat puasa tidak membatalkan puasa secara hukum fikih. Artinya, seseorang tetap sah menjalankan puasanya dan tidak perlu mengganti di hari lain.
Namun, ada catatan penting.
"Marah itu saat berpuasa tidak membatalkan puasa, tapi bisa membatalkan pahala berpuasa. Jadi sayang sekali kalau hanya dapat lapar dan haus saja," ujarnya.
Dengan kata lain, puasa memang tetap sah, tetapi kualitasnya bisa menurun drastis. Padahal, tujuan utama puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan melatih pengendalian diri.
Puasa dan ujian emosi
Puasa adalah latihan kesabaran. Sejak pagi hingga menjelang berbuka, seseorang diuji oleh rasa lapar, haus, lelah, hingga situasi sosial yang kadang memancing emosi.
Target puasa sejatinya adalah kemampuan mengontrol diri. Sabar hingga waktu berbuka, sabar menghadapi ujian, dan sabar dalam bersikap.
Karena itu, ketika seseorang justru mudah tersulut amarah, apalagi sampai bertengkar, kualitas puasanya bisa 'hancur' dari sisi pahala.
"Kalau marah-marah terus, berbahaya sekali. Puasa bisa hancur pahalanya, kualitas puasanya tidak sebagaimana yang diharapkan," jelasnya.
Lantas, bagaimana jika emosi sudah telanjur naik?
Ustaz Wahyul menyarankan agar puasa tetap dilanjutkan. Tidak perlu membatalkan atau merasa sia-sia sepenuhnya. Yang perlu dilakukan adalah segera memperbaiki diri.
Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
• Segera beristigfar.
• Mengambil wudu untuk menenangkan diri.
• Bertawadu atau merendahkan hati.
• Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Dalam ajaran Nabi Muhammad SAW, ketika seseorang diajak bertengkar saat berpuasa, ia dianjurkan mengatakan,
"Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa." Kalimat ini bukan hanya pengingat bagi orang lain, tetapi juga alarm bagi diri sendiri agar tidak larut dalam emosi.
Puasa yang ideal adalah puasa yang membentuk pribadi lebih sabar, lebih tenang, dan lebih bijak. Jika amarah justru lebih dominan, maka esensi puasa patut direnungkan kembali.
Menahan diri dari emosi mungkin lebih sulit daripada menahan rasa lapar. Namun, di situlah letak nilai spiritual puasa yang sesungguhnya.
Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.
Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.
(tis/tis)

2 hours ago
1

















































