Hasil Pantauan Hilal 1 Syawal 1447 H di Merauke Papua Selatan, Kemenag Sebut Posisi Bulan Belum Memenuhi Kriteria MABIMS

3 hours ago 7
Ilustrasi Pemantauan Hilal ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/hp.

FAJAR.CO.ID, JAYAPURA – Proses penentuan jatuhnya 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri 2026 dimulai dari titik paling timur Indonesia. Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua melaporkan bahwa berdasarkan hasil pemantauan di Pos Observasi Bulan (POB) Merauke, Papua Selatan, posisi hilal secara teknis belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan secara internasional.

Kepala Kanwil Kemenag Papua, Klemens Taran, menegaskan bahwa pemantauan hilal di wilayahnya mengacu sepenuhnya pada standar kriteria Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria ini menjadi parameter ilmiah dan syar'i yang disepakati untuk menentukan awal bulan baru dalam kalender Hijriah.

“Kriteria tersebut menetapkan bahwa hilal dapat dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal tiga derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat,” kata Klemens Taran dalam siaran pers resmi di Jayapura, Kamis (19/3/2026).

Analisis Data Astronomi di POB Merauke

Berdasarkan data teknis yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi hilal di ufuk timur saat matahari terbenam menunjukkan angka yang masih sangat rendah. Ketinggian hilal tercatat hanya berada di angka 0,91 derajat dengan sudut elongasi sebesar 4,04 derajat.

Secara analitis, angka ini berada jauh di bawah ambang batas imkanur rukyat (kemungkinan hilal terlihat). Dengan posisi tersebut, secara teori astronomi, hilal mustahil dapat diamati dengan mata telanjang maupun alat optik konvensional di wilayah Merauke.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi