Ilusi Stabilitas di Tengah Badai Ekonomi, Akuntan Ini Sampaikan Refleksi Kritis Terkait Realita Subsidi dan Ketegangan Global

10 hours ago 2
Ilustrasi kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. (INT)

FAJAR.CO.ID, ​JAKARTA – Akuntan yang lebih dikenal sebagai penulis kenamaan Indonesia, Tere Liye, kembali melontarkan kritik tajam terkait narasi keberhasilan pemerintah dalam menahan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Dalam pernyataan terbarunya, ia menyoroti distorsi informasi mengenai posisi kapal Pertamina di Selat Hormuz hingga beban fiskal yang kian mengkhawatirkan.

​Menanggapi kabar yang menyebutkan bahwa kapal Pertamina telah berhasil melintasi Selat Hormuz berkat diplomasi tingkat tinggi, Tere Liye menegaskan bahwa hingga detik ini hal tersebut belum terjadi.

Meski secara diplomasi izin mungkin telah dikantongi, namun secara prosedural militer di lapangan, izin dari pihak Iran belum turun.

​"Bukan main. Jangan bangga dulu. Per detik ini, kapal kita masih belum lewat," ujar Tere Liye dikutip Selasa (14/4/2026).

Dia membandingkan kondisi tersebut dengan kapal-kapal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang telah melintas secara nyata, bukan sekadar klaim "omon-omon".

"Boleh jadi militer Iran menganggap kita bukan kawan lagi," tambah alumni Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

​Harga BBM: Keputusan Politik yang Dibayar Utang

​Terkait keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM di tengah gejolak minyak dunia, Tere Liye mengingatkan publik bahwa stabilitas harga tersebut bukanlah sebuah "prestasi gratis".

Hal itu murni merupakan keputusan politik yang konsekuensinya dibebankan pada anggaran negara.

​Total Subsidi 2026: Mencapai Rp300 triliun (estimasi jika minyak dunia menyentuh $100/barel).
​Sumber Pendanaan: Pinjaman (utang) dan pajak rakyat.
​Realitas Pajak: Kurang dari 10% penduduk Indonesia yang melapor SPT.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi