Jakarta, CNN Indonesia --
Di balik kecanggihan dan melejitnya industri semikonduktor (chip) global, ada salah satu tokoh paling berpengaruh di bisnis ini: Jason Chang.
Ia merupakan pendiri Advanced Semiconductor Engineering (ASE), perusahaan jasa pengemasan dan pengujian chip (outsourced semiconductor assembly and test/OSAT).
Sederhananya begini, OSAT tidak membuat chip dari nol, tetapi menangani chip yang sudah jadi agar siap dipakai di produk elektronik. Chip tanpa diuji perusahaan OSAT bisa membuat HP atau mobil rusak. Tak heran OSAT disebut tulang punggung industri chip global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ASE merupakan perusahaan OSAT terbesar dunia, yang menguasai seperlima pangsa pasar global. Kliennya antara lain Qualcomm, NVIDIA, AMD hingga MediaTek.
Chang bersaudara juga tercatat sebagai investor utama Sino Horizon, pengembang real estate komersial di China. Bisnis properti ini memperluas portofolio kekayaan mereka di luar sektor teknologi.
Dari bisnis teknologi dan properti, Forbes menaksir kekayaan Chang sekitar US$11 miliar atau setara Rp186 triliun (asumsi kurs Rp16.900). Ia berada di peringkat kedua orang terkaya Singapura,
Namun siapa sangka meski sekarang tajir melintir, dulunya Chang merupakan pengungsi. Ia lahir pada 18 Mei 1944 di Shanghai, China. Keluarga Chang kemudian pindah ke Taiwan untuk mencari stabilitas politik dan ekonomi, buntut terjadinya pergolakan politik di daratan besar Tiongkok.
Ayah Chang merupakan pebisnis kecil. Sementara sang ibu, Chang Yao Hung-Ying, merupakan pebisnis properti andal. Ia pendiri Hung Ching Development & Construction
Nantinya, sang ibu lah yang menjadi investor utama ketika Jason Chang dan adiknya Richard Chang membangun ASE pada 1984. Bahkan, Hung-Ying rela menjual properti untuk membantu pendanaan di tahun-tahun awal perusahaan duo Chang.
Nah, di 'negara barunya', Chang menempuh pendidikan tinggi di National Taiwan University. Ia mengambil jurusan teknik elektronik. Kemudian, ia meraih gelar master di Illinois Institute of Technology di Amerika Serikat (AS).
Beres studi, Chang sempat bekerja di berbagai proyek teknik, sambil menyerap tren teknologi internasional.
Pada 1980-an, Taiwan mulai menggeliat menjadi tech hub. Chang pun melihat peluang besar di belakang layar industri semikonduktor: packaging dan testing chip. Kedua aspek yang sering diabaikan, tetapi sangat vital dalam rantai pasok industri elektronik.
Berkat suntikan modal dari ibunya yang sampai menjual beberapa aset proporti, Jason dan adiknya Richard Chang mendirikan Advanced Semiconductor Engineering (ASE) pada 1984 di Kaohsiung, Taiwan. ASE awalnya hanya sebuah pabrik kecil yang mengerjakan pengemasan paket chip.
Mendirikan dan membangun perusahaan ternyata tak mudah. Tiga tahun pertama betul-betul penuh cobaan. Chang hampir kehabisan modal, sementara teknologi ACE belum matang. Pasar pun skeptis terhadap kemampuan perusahaan baru ini.
Untungnya, Chang merupakan pribadi tekun dan pandai membaca arah dan minat pasar. Ia memodifikasi strategi bisnis ASE seiring kebutuhan industri. Filosofi bisnisny: quality first. Ini kunci bertahan di bisnis teknologi yang sangat cepat berubah.
Pada 1989, ASE mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Taiwan, langkah besar pertama dalam ekspansi global. Sekitar 1990-an ASE mulai menapaki panggung global. Perusahaan pun memasuki pasar testing chip dari awalnya sekadar pengemasan chip.
Ini langkah strategis karena testing menentukan kualitas dan keandalan chip. Selain itu, banyak produsen chip besar memilih outsourcing untuk menekan biaya. Margin bisnis testing relatif lebih stabil dibanding manufaktur wafer (pembuatan chip).
ASE juga ekspansi ke Malaysia. Di periode 90-an ini, ASE membeli fasilitas dari Motorola di Taiwan dan Korea Selatan.
Tanpa keputusan-keputusan berani di dekade ini, ASE kemungkinan besar tidak akan menjadi raksasa OSAT nomor satu dunia seperti sekarang.
Puncak dari fase ini adalah pencatatan saham di bursa NASDAQ, Amerika Serikat. Dampaknya besar, salah satunya membuka akses ke modal internasional dan mengangkat nama ASE ke radar investor dan klien global. Bagi industri chip saat itu, listing di NASDAQ adalah simbol legitimasi bahwa sebuah perusahaan Asia mampu bermain dengan standar Wall Street.
ASE yang semula cuma pabrik kecil pun berkembang menjadi penyedia layanan OSAT independen terbesar di dunia. Teknologi-teknologi seperti copper wire bonding, mendapatkan pengakuan internasional.
Berkat dedikasi dan visi Chang bersaudara dalam memodernisasi proses assembly dan testing, AS menjelma menjadi layanan manufaktur semikonduktor independen terbesar di dunia.
Jangkauan bisnis ASE tersebar di seluruh Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat. Bahkan menjadi bagian vital dari ekosistem global teknologi tinggi.
Kepemimpinan Chang di ASE tidak sekadar soal skala bisnis. Ia fokus pada teknologi pengemasan dan uji coba chip, termasuk pengembangan material dan proses yang lebih efisien.
Pada 2013, ASE didenda oleh pemerintah kota Kaohsiung, Taiwan, gara-gara pabriknya membuang limbah air tanpa pengolahan layak. Akibatnya, limbah tersebut mencemari lingkungan sekitar.
Untuk merespons kasus itu, Chang muncul langsung di publik, meminta maaf. Langkah yang menunjukkan tanggung jawab terhadap dampak operasional perusahaan.
Meskipun ASE berbasis di Taiwan, Chang memilih Singapura sebagai rumah. Paspor Singapura menjadi basis strategisnya, terutama untuk manajemen kekayaan, jaringan global, dan ekspansi usaha di Asia Tenggara.
Chang menikah dengan Ching Ping Chang, seorang desainer interior yang memberi warna berbeda dalam keseharian hidupnya.
Pasangan ini memiliki tiga anak, yakni Danielle, Rutherford, dan Madeline. Si Bungsu memilih jalur kreatif, terinspirasi oleh sisi artistik sang ibu. Sementara anak tengah, Rutherford, masuk dalam manajemen ASE sebagai General Manager China Region.
(bac)

3 hours ago
1














































