Kenali Tanda 'Parentified Daughter', saat Anak Memikul Beban Orang Tua

2 hours ago 2

CNN Indonesia

Jumat, 08 Mei 2026 18:30 WIB

Parentified daughter adalah kondisi ketika anak dipaksa mengambil tanggung jawab emosional atau fisik yang seharusnya menjadi peran orang tua. Ilustrasi. Parentified daughter adalah kondisi ketika anak dipaksa mengambil tanggung jawab emosional atau fisik yang seharusnya menjadi peran orang tua. (iStockphoto/skynesher)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Tidak semua anak perempuan tumbuh dengan ruang untuk menjadi anak-anak sepenuhnya. Sebagian anak perempuan terutama anak sulung, justru mengambil peran sebagai orang tua dalam keluarganya sejak usia dini.

Hal ini dikenal sebagai parentification, kondisi ketika anak dipaksa mengambil tanggung jawab emosional atau fisik yang seharusnya menjadi peran orang tua.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biasanya parentification tidak selalu terlihat jelas. Mulai dari anak yang harus mengurus adik, memasak, atau mengatur rumah tangga.

Namun, ada pula yang menjadi tempat curhat orang tua, penenang konflik, hingga penopang emosional keluarga.

Menurut psikolog anak klinis, Robyn Koslowitz, kondisi ini merupakan bentuk pembalikan peran, ketika anak mengelola kebutuhan orang tua, bukan sebaliknya.

Terapis pernikahan dan keluarga, Cheryl Grosskopf menjelaskan hal tersebut dapat terjadi karena orang tua tidak mau atau tidak mampu mengambil peran sebagai pengasuh.

Dalam keluarga dengan konflik, tekanan ekonomi, atau orang tua yang tidak siap secara emosional, beban tersebut kerap jatuh pada anak perempuan tertua.

Berikut merupakan tanda-tanda seseorang tumbuh sebagai parentified daughter.

1. Terlihat dewasa sebelum waktunya

Anak perempuan yang mengalami parentification sering kali dipuji dewasa di atas usianya. Ia tampak tenang, bijak, dan mampu mengendalikan emosi.

Namun, kedewasaan ini bukan selalu tanda perkembangan yang sehat, melainkan hasil dari tuntutan lingkungan yang memaksanya beradaptasi lebih cepat.

Di balik sikap tenang tersebut, biasanya terdapat kewaspadaan berlebih terhadap situasi sekitar. Ia terbiasa membaca suasana hati orang lain dan menyesuaikan diri agar konflik tidak terjadi.


2. Selalu menjadi penolong dalam hubungan

Melansir dari Verywell Mind, dalam pertemanan atau hubungan, ia sering mengambil peran sebagai penolong atau teman yang paling bisa diandalkan. Ia menjadi tempat curhat, pemberi solusi, dan orang pertama yang dicari ketika orang lain mengalami masalah.

Namun, kebiasaan ini sering kali membuatnya kelelahan secara emosional. Ia merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain dan takut jika berhenti membantu, hubungan tersebut akan retak atau hilang.


3. Perfeksionis dan takut membuat kesalahan

Mengutip dari Psychology Today, bagi parentified daughter, melakukan segala sesuatu dengan sempurna sering dianggap sebagai cara untuk menjaga hubungan. Sejak kecil, ia belajar bahwa kesalahan dapat memicu konflik atau memperburuk situasi keluarga.

Pola ini terbawa hingga dewasa, ketika ia menetapkan standar tinggi pada diri sendiri. Ia merasa harus selalu melakukan hal yang benar agar tidak mengecewakan orang lain.


4. Sulit mengatakan tidak

Kebiasaan menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri membuatnya kesulitan menolak permintaan. Ia merasa bersalah jika tidak membantu, bahkan ketika kondisi dirinya sendiri sedang tidak baik.

Perasaan ini biasanya bermula dari pengalaman masa kecil ketika ia terbiasa memenuhi kebutuhan orang tua atau keluarga tanpa punya pilihan untuk menolak. Akibatnya, ia cenderung menjadi people pleaser.

[Gambas:Video CNN]


5. Kesulitan meminta bantuan

Meskipun selalu ada untuk orang lain, ia justru kesulitan meminta bantuan saat membutuhkan. Ia terbiasa menjadi pihak yang memberi, bukan menerima.

Anak perempuan dengan parentification cenderung tidak nyaman dalam menerima bantuan atau bahkan dianggap sebagai kelemahan. Ia merasa harus menyelesaikan segala sesuatu sendiri, meskipun hal tersebut melelahkan.

Menukil dari Simply Psychology, kondisi ini juga muncul bisa karena berbagai penyebab, misalnya dalam keluarga dengan orang tua tunggal atau ketika salah satu anggota keluarga sakit.

Namun ketika beban tersebut berlebihan dan berlangsung lama, dampaknya dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak.

Memahami tanda-tanda ini menjadi langkah awal untuk mengenali pola yang terbentuk sejak kecil. Dengan kesadaran tersebut, seseorang dapat mulai membangun batasan yang sehat, belajar menerima bantuan, dan perlahan memberi ruang bagi dirinya sendiri.

(nga/fef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi