Kerusuhan; Rapuhnya Kepercayaan Publik ataukah Matinya Nalar Publik?

11 hours ago 3

Kondisi terkini kantor DPRD Makassar usai terbakar, Sabtu 30 Agustus 2025

Oleh:Usman Lonta
(Politisi dan Akademisi)

Beberapa hari terakhir ini, kita disuguhi pemandangan yang memilukan: fasilitas publik yang dibangun dari pajak rakyat, justru dibakar oleh rakyat sendiri. Gedung pemerintah dirusak, jalan-jalan porak-poranda, bahkan sekolah dan rumah sakit tidak luput dari amarah massa. Ironi besar pun lahir: rakyat merusak sesuatu yang sesungguhnya mereka bangun dengan keringat dan jerih payah mereka sendiri.

Pertanyaan mendasar pun menyeruak: apakah ini tanda bahwa akal sehat rakyat telah mati? Ataukah yang sesungguhnya rapuh adalah kepercayaan publik terhadap pemerintah?

Dalam keadaan normal, tidak ada warga negara yang mau merusak fasilitas yang mereka butuhkan sehari-hari. Membakar sekolah berarti menghancurkan masa depan anak-anak mereka sendiri. Merusak rumah sakit berarti menutup akses kesehatan mereka sendiri. Tetapi dalam situasi penuh amarah, rasionalitas mudah runtuh.

Kerusuhan kerap lahir dari akumulasi kekecewaan yang tak tersalurkan. Dalam psikologi massa, amarah kolektif bisa melampaui batas nalar individu. Logika yang biasanya menjaga manusia tetap rasional, bisa padam seketika. Maka rakyat yang marah bertindak seperti api liar, menyapu apa saja yang dianggap simbol kekuasaan, meskipun itu sebenarnya milik mereka sendiri.

Pada titik inilah, orang lalu menyimpulkan bahwa akal sehat rakyat kita sudah mati. Tetapi apakah tuduhan seperti ini mengandung kebenaran? Ataukah mereka membakar fasilitas public tersebut sebagai symbol terbakarnya kepercayaan mereka terhadap pemerintah?

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi