Konflik Timur Tengah. (INT)
FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel memicu kekhawatiran global akan terjadinya krisis energi yang berkepanjangan.
Merespons hal tersebut, Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Muh. Zulhamdi Suhafid, mengingatkan Pemerintah Republik Indonesia untuk segera mengambil langkah mitigasi strategis melalui percepatan transisi energi terbarukan.
Presiden Mahasiswa UIN Alauddin Makassar menyatakan bahwa ketergantungan pada energi fosil di tengah konflik Selat Hormuz dan wilayah Timur Tengah merupakan risiko besar bagi kedaulatan energi nasional. Oleh karena itu, percepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan tidak lagi bisa ditunda.
"Krisis energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah adalah alarm keras bagi kita semua. Indonesia tidak boleh terlena dengan stabilitas sesaat. Kami mendesak Pemerintah untuk melakukan mitigasi serius dan segera mempercepat transisi energi sebagai solusi jangka panjang," tegas Zulhamdi dalam keterangan persnya kepada fajar.co.id, Kamis, 2 April 2026.
Fokus Energi Surya untuk Indonesia Timur
Salah satu poin utama yang didorong oleh mahasiswa adalah pemanfaatan potensi geografis Indonesia, khususnya di wilayah Timur. Presma UINAM menyoroti bahwa wilayah Indonesia Timur memiliki paparan sinar matahari yang sangat tinggi, yang seharusnya menjadi modal utama dalam kemandirian energi.
"Kami meminta Pemerintah untuk memberikan atensi khusus pada percepatan transisi energi bertenaga surya (solar power). Khususnya di wilayah Indonesia Timur yang memiliki intensitas panas matahari yang luar biasa. Ini adalah kekayaan alam yang belum tergarap maksimal untuk kepentingan rakyat," tambahnya.


















































