CNN Indonesia
Selasa, 28 Apr 2026 06:00 WIB
Ilustrasi Kereta Api Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya Pasar Turi-Gambir . (ANTARA FOTO/Yovi And)
Jakarta, CNN Indonesia --
Kecelakaan kereta api (KA) terjadi pada Senin (27/4) malam WIB yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kejadian ini membuat operasional perjalanan kereta api di lintas tersebut berdampak atau mengalami gangguan dan munculnya korban jiwa dan luka.
Kereta Api Argo Bromo Anggrek, atau yang populer dengan sebutan Argo Anggrek, dikenal sebagai primadona transportasi rel yang menghubungkan Jakarta (Stasiun Gambir) dan Surabaya (Stasiun Pasar Turi). Dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI), layanan ini merupakan simbol kemewahan dan kecepatan di jalur utara Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama "Bromo" merujuk pada gunung api ikonik di Jawa Timur, sedangkan "Anggrek" diambil dari identitas bunga nasional Indonesia. Dalam hierarki perkeretaapian nasional, KA Argo Bromo Anggrek menempati kasta tertinggi sebagai kereta kelas satu. Hal ini dibuktikan dengan kepemilikan nomor perjalanan 1 hingga 4 dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka).
Menempuh jarak sejauh 720 km hanya dalam waktu sekitar 8 jam 10 menit, Argo Anggrek memegang rekor sebagai kereta api tercepat di rute Jakarta-Surabaya. Untuk mengakomodasi kebutuhan penumpang, KAI menyediakan dua jadwal keberangkatan setiap harinya, yakni perjalanan pagi dan malam.
Lalu, seperti apa perjalanan sejarah KA Argo Bromo Anggrek ini? Dikutip dari berbagai sumber, jejak Argo Anggrek bermula pada 31 Juli 1995 saat Presiden Soeharto meresmikan JS950 Argo Bromo bertepatan dengan Hari Teknologi Nasional.
Nama "JS950" memiliki filosofi mendalam: Jakarta-Surabaya dalam 9 jam, diluncurkan pada peringatan 50 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Evolusi berlanjut pada 24 September 1997 dengan peluncuran varian "Anggrek". Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan teknologi bogie K9 (CL243 bolsterless) hasil kolaborasi dengan Alstom.
Teknologi suspensi udara ini memungkinkan kereta melaju stabil hingga kecepatan 120 km/jam dengan guncangan yang sangat minim, memberikan kenyamanan maksimal bagi penumpang jarak jauh.
Argo Anggrek menawarkan dua pilihan kelas mewah dengan fasilitas penunjang yang lengkap:
- Kelas Eksekutif: Memiliki kapasitas 50 tempat duduk dengan konfigurasi 2-2. Setiap kursi dilengkapi fitur reclining (rebah) dan rotary (putar), sandaran kaki, stop kontak, audio jack 3.5 mm, lampu baca, meja lipat, serta bantal dan selimut.
- Kelas Luxury: Menawarkan privasi ekstra dengan hanya 18 kursi berkonfigurasi 1-1. Keunggulan utamanya adalah kursi yang dapat direbahkan hingga 180 derajat (menjadi tempat tidur). Fasilitas pendukung lainnya serupa dengan kelas eksekutif namun dengan layanan yang lebih personal.
Sebagai penghubung kawasan ekonomi aktif di Pulau Jawa, kereta ini memiliki tingkat keterisian penumpang yang tinggi sepanjang tahun. Jalur utara yang dilewati mencakup beberapa kota besar sebagai titik pemberhentian, antara lain:
- Stasiun Gambir (Jakarta)
- Stasiun Cirebon
- Stasiun Tegal
- Stasiun Pekalongan
- Stasiun Semarang Tawang
- Stasiun Bojonegoro
- Stasiun Surabaya Pasar Turi.
Untuk menikmati layanan kelas eksekutif Argo Bromo Anggrek, penumpang perlu merogoh kocek dengan kisaran harga tiket antara Rp400.000 hingga Rp700.000 per orang, tergantung pada subkelas dan waktu pemesanan.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
2

















































