Musim Kemarau Diprediksi Tiba Lebih Cepat, BMKG Ingatkan Dampaknya

2 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Kedatangan musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih awal dari normal berpotensi memicu sejumlah dampak di berbagai sektor, mulai dari pertanian, sumber daya air, hingga peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Simak penjelasannya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyampaikan bahwa 46,5 persen zona musim di Indonesia atau 325 dari 699 zona musim (ZOM) diperkirakan mengalami awal musim kemarau yang maju dibandingkan rata-rata klimatologis 1991-2020. Kondisi ini membuat durasi kemarau di sejumlah wilayah berpotensi lebih panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menegaskan bahwa kemajuan awal musim berdampak langsung pada lamanya periode kering.

"Kesimpulan umum dari musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini, kita prediksi maju atau lebih awal. Sehingga pada banyak tempat dia juga menjadi lebih panjang karena awalnya itu maju," ujar Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3).

Tekanan pada sektor pertanian

Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pertanian, terutama lahan sawah tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan alami. Dengan kemarau datang lebih cepat, ketersediaan air untuk masa tanam berpotensi terganggu.

BMKG merekomendasikan penyesuaian jadwal tanam serta pemilihan varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih pendek.

"Perlunya penyesuaian jadwal tanam, lalu juga memilih varietas tanaman yang resisten terhadap kekeringan dan kondisi panas," kata Ardhasena.

Untuk lahan beririgasi teknis, dampak diperkirakan relatif lebih terkendali, asalkan pengelolaan waduk dan jaringan distribusi air berjalan optimal.

Risiko kekeringan dan karhutla meningkat

Kemarau yang lebih awal dan lebih panjang juga meningkatkan risiko kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah. BMKG mencatat, pada musim kemarau dengan sifat normal hingga bawah normal, potensi kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat.

"Di musim kemarau yang normal atau bawah normal biasanya berasosiasi dengan risiko dari karhutla yang juga meningkat dan hal ini perlu kita waspadai," jelas Ardhasena.

Kepala BMKG menambahkan, titik-titik panas di wilayah sekitar garis khatulistiwa seperti Riau dan Kalimantan Barat bahkan sudah mulai terdeteksi dalam periode kemarau kecil saat ini.

Cadangan air

Dampak lain dari kemarau yang datang lebih awal adalah tekanan terhadap cadangan air di bendungan dan waduk. Indonesia memiliki lebih dari 220 bendungan yang berperan penting untuk irigasi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

BMKG mendorong revitalisasi waduk, pengurangan sedimentasi, serta perbaikan saluran irigasi primer hingga tersier untuk memastikan pasokan air tetap terjaga selama periode kering yang lebih panjang.

Selain itu, pemerintah daerah diminta meningkatkan kesiapsiagaan kebencanaan, termasuk antisipasi penurunan kualitas udara akibat potensi karhutla.

BMKG menegaskan bahwa informasi ini merupakan bagian dari sistem peringatan dini (early warning) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata (early action) oleh seluruh pemangku kepentingan.

Dengan kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih lama, kesiapan lintas sektor menjadi kunci untuk menekan dampak terhadap ketahanan pangan, ketersediaan air, energi, serta lingkungan.

(wpj/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi