Nadiem Makarim: Dari Penghargaan Selular Award, Nikkei Asia Prize, Hingga Hotel Prodeo

3 hours ago 2

Selular.ID – Foto di atas bisa jadi merupakan dokumentasi yang jarang terungkap sebelumnya. Dalam akun IG resmi GoJek yang dipublikasikan pada 8 April 2015, Nadiem Makarim beserta seorang rekannya, tengah mengangkat tinggi-tinggi sebuah trophy.

Itu adalah trophy Selular Award ke-13, yang digelar di Balai Kartini, Jakarta, pada awal April 2015.

Selular Award merupakan ajang bergengsi yang digelar oleh Selular (saat itu masih berbentuk majalah). Selular yang didirikan pada 2000, merupakan perintis media telekomunikasi di Indonesia.

Ajang penghargaan ini sebagai wujud apresiasi kepada para pelaku usaha. Bertujuan memacu kinerja lebih baik, sekaligus mendorong tumbuhnya kompetisi yang sehat di industri telekomunikasi yang semakin dinamis.

Sejak pertama kali di selenggarakan pada 2003, penyelenggaran Selular Award tidak pernah terputus hingga kini, menjadikannya sebagai kalender tetap industri telekomunikasi di Indonesia.

Kembali ke IG GoJek itu, dalam captionnya, tertulis:

GoJek Indonesia make history yet again! Taking home the best local app award at the 2015 @selular.ID awards. Thank you to every one that has supported us along the way. Always moving up #GOJEK4LIFE #gojek #gofood #gojekgotmehere

Caption tersebut menandakan kebahagiaan sekaligus kebanggaan yang luar biasa bagi seorang Nadiem yang merupakan pendiri sekaligus CEO GoJek.

Meski telah didirikan sejak 2010, pada periode itu GoJek adalah sebuah start-up yang masih belum banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia.

Predikat yang diraih di ajang Selular Award, tentu memberikan semangat tambahan bagi Nadiem untuk terus mengembangkan GoJek dan memperluas pemakaiannya ke seluruh lapisan masyarakat.

Dalam pandangannya, Nadiem ingin menjadikan GoJek bukan hanya sarana transportasi alternatif yang tak hanya membantu para tukang gojek dari sisi penghasilan, namun juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dan dunia usaha secara keseluruhan.

Sekedar diketahui, saat mendirikan GoJek, Nadiem mengatakan perusahaannya memiliki konsep spesial.

“GoJek menjadi solusi dari berbagai layanan di Indonesia, seperti logistik, transportasi, kemacetan, apapun itu, dan di sini saya melihat itu, oke mari kita pecahkan masalah itu,” kata dia pada Oktober 2015, dinukil dari Antara.

Tak dapat dipungkiri, keberhasilan meraih predikat  sebagai “Best Local App” di ajang Selular Award 2015 memperkuat kepercayaan sejumlah ventures capital mengucurkan dana investasi ke GoJek

Diketahui, sepanjang 2015, Gojek mendapatkan pendanaan signifikan dari beberapa investor, termasuk putaran pendanaan Seri B yang diikuti oleh Sequoia Capital India, DST Global, dan investor lama seperti Openspace Ventures serta pendanaan awal dari NSI Ventures, yang mempercepat pertumbuhan Gojek setelah peluncuran aplikasi seluler mereka.

Baca Juga:

Di sisi lain, penghargaan dari Selular seolah menjadi keran pembuka bagi GoJek di ajang-ajang penghargaan lainnya.

Setelah Selular Award, salah satu penghargaan yang mentereng yang diraih Nadiem, datang dari lembaga bisnis terkemuka Jepang, Nikkei Asia.

Sukses merintis GoJek menjadi bagian dari ekonomi digital yang berkembang pesat di Indonesia, Nadiem diganjar penghargaan “Nikkei Asia Prize ke-24″ untuk inovasi ekonomi dan bisnis di Tokyo, Jepang pada Mei 2018 silam.

Penghargaan itu diberikan oleh Nikkei sejak 1996 untuk para individu maupun organisasi yang telah berkontribusi bagi pengembangan kawasan dan membantu menciptakan masa depan lebih baik bagi masyarakat Asia.

Nadiem menjadi tokoh teknologi penerima penghargaan termuda se-Asia di sepanjang sejarah Nikkei Asia Prize.

Alumnus Universitas Harvard itu, sukses membesarkan Gojek hingga menyandang gelar decacorn, istilah bagi start-up yang memiliki nilai valuasi lebih dari US$ 10 miliar.

Hal itu menandakan pengakuan yang luas atas pencapaian GoJek, sekaligus kontribusi yang diberikan seorang Nadiem.

From Hero to Zero

Kisah kesuksesan GoJek yang melambungkan nama Nadiem, membuat Presiden Joko Widodo menawarkan jabatan bergengsi yang banyak diimpikan oleh siapa pun, yatu menjadi menteri.

Pada 21 Oktober 2019, di puncak kejayaannya sebagai CEO GoJek, Nadiem menyatakan mundur dari perusahaan yang telah dibangunnya sejak 2010.

Nadiem pada akhirnya menerima tawaran bergabung ke dalam kabinet Presiden Joko Widodo. Dua hari kemudian, ia diumumkan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada 2021, nomenklatur kementeriannya diubah menjadi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Sayangnya, kini dunia seolah terbalik. Nadiem Makarim yang dulu dielu-elukan sebagai profesional muda berbakat, berkat kiprahnya dalam membesarkan GoJek, kini harus rela tidur di “Hotel Prodeo”.

Jabatannya sebagai Mendikbudristi yang ia sandang pada 2019 – 2024, justru membuatnya tersangkut perkara korupsi.

Tak tanggung-tanggung, temuan Kejaksaan Agung menyebutkan dalam perkara korupsi chrome book, Nadiem bersama beberapa pihak lainnya, merugikan negara hingga Rp 2,1 triliun.

Kejaksaan mendakwa Nadiem menerima keuntungan pribadi sebesar Rp 809 miliar dalam perkara dugaan korupsi program digitalisasi pendidikan pada Kemendikbudristek, periode 2019-2022.

Setelah resmi menjadi terdakwa, Kejaksaan Agung langsung menahan Nadiem di rumah tahanan Salemba, Jakarta Selatan sejak 4 September 2025. Penahanan Nadiem sempat dibantarkan dua kali karena harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Saat ini persoalan hukum yang mendera Nadiem, tengah memasuki persidangan. Tentu saja, seperti banyak terdakwa korupsi lainnya, ia mengaku tidak bersalah.

Dalam eksepsi atau nota keberatan yang dibacakan pada persidangan di PN Jakarta Pusat (5/1), perubahan yang dilakukannya selama menjabat sebagai Mendikbudristi, membuat sejumlah pihak terancam dan merasa dirugikan.

Dia juga mengatakan, selama lima tahun dia menjabat Menteri sejumlah capaian mulai terlihat. Nadiem menyinggung kap besar pendidikan mulai bergerak misalnya berkat akselerasi teknologi.

Kemudian satu juta guru honorer diangkat menjadi P3K dan mendapat nafkah layak, sertifikasi PPG untuk guru bisa lebih mudah diraih secara online hingga dua juta guru mengunduh aplikasi Platform Merdeka Mengajar untuk pelatihan kurikulum mandiri gratis.

Terlepas dari eksepsi yang dibacakan Nadiem, jaksa menyebutkan bahwa bukti-bukti yang telah dikumpulkan lebih dari cukup.

Apalagi, dalam pra-persidangan sebelumnya diajukan oleh Nadiem pada Oktober tahun lalu, hakim menilai tak ada yang keliru dalam penetapan statusnya sebagai terdakwa.

Saat itu hakim Ketut Darpawan menilai penetapan tersangka dan penahanan yang dilakukan Kejaksaan Agung terhadap Menteri era Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu sah menurut hukum.

Bagaimana ujung dari proses persidangan terhadap Nadiem Makarim? Kelak waktu yang menjawab.

Apakah Nadiem diputus bebas atau harus menjalani hukuman seperti halnya para koruptor yang terpaksa tinggal selama bertahun-tahun.

Suka tak suka, Nadiem harus menghabiskan hari-hari di balik angkuhnya tinggi pagar penjara dan pucatnya dinding lembaga permasyarakatan.

Apapun keputusan hakim nantinya, saat ini reputasi Nadiem berada di titik nadir. Dari profesional berbakat dan tokoh teknologi muda, menjadi seorang terpidana yang telah merusak karir yang selama ini telah susah payah dibangun. From hero to zero.

Nasib yang dialami Nadiem, tampaknya tak berbeda dengan sejumlah menteri lain berlatar belakang pengusaha di era kabinet Jokowi yang akhirnya tersangkut korupsi. Seperti Johnny G. Plate (Menkominfo) dan Juliari Batubara (Mensos).

Nadiem oh Nadiem ..

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi