Selular.ID – Niko Elektronik menegaskan strategi perusahaan dalam mengembangkan kompor listrik yang lebih efisien dan terjangkau di Indonesia, di tengah tantangan keterbatasan daya listrik rumah tangga yang umumnya berada di kisaran 1.300 VA.
Tjandra Lianto, Direktur Marketing Niko Elektronik menyampaikan bahwa penggunaan kompor listrik di berbagai negara tidak menjadi isu, baik untuk kebutuhan rumah tangga kecil maupun besar.
Namun di Indonesia, adopsi teknologi ini masih menghadapi kendala utama pada kapasitas daya listrik rumah, di mana sebagian besar perangkat kompor listrik membutuhkan daya antara 800 hingga 1.300 watt.
Kondisi tersebut membuat ruang penggunaan kompor listrik di dalam negeri menjadi lebih terbatas, karena konsumsi daya harus berbagi dengan perangkat elektronik lain di rumah.
Hal ini menjadi perhatian utama Niko dalam merancang produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen lokal.
Niko Elektronik saat ini memiliki lini produk kompor listrik dengan dua pendekatan material utama, yakni berbasis kaca dan berbasis stainless steel.
“Material kaca umumnya digunakan untuk menghadirkan tampilan modern dan mudah dibersihkan, sementara stainless steel lebih menonjolkan ketahanan dan daya tahan dalam penggunaan jangka panjang,”ujar Tjandra, dalam Bincang Eksekutif di Jakarta, (22/4/26).
Perusahaan juga berupaya mengubah persepsi bahwa kompor listrik identik dengan produk mahal.
Melalui desain dan pilihan material, Niko berusaha menghadirkan produk dengan kesan premium namun tetap berada dalam rentang harga yang dapat dijangkau oleh konsumen rumah tangga.
Tjandra menyebut bahwa arah pengembangan produk saat ini berfokus pada efisiensi energi.
Niko melihat kebutuhan konsumen yang semakin mengutamakan penggunaan listrik yang hemat, seiring meningkatnya kesadaran terhadap biaya energi dan keterbatasan daya.
Strategi tersebut diterapkan dengan menyesuaikan teknologi pemanas serta manajemen daya pada kompor listrik, agar tetap optimal digunakan pada rumah dengan daya terbatas.
Upaya ini juga menjadi bagian dari proses berkelanjutan perusahaan dalam menyesuaikan produk dengan kondisi pasar domestik.
Dalam konteks industri, adopsi kompor listrik di Indonesia juga berkaitan dengan kebijakan energi dan transisi dari bahan bakar berbasis gas ke listrik.
Namun implementasinya masih memerlukan penyesuaian dari sisi infrastruktur dan kesiapan konsumen.
Niko melihat peluang dalam fase transisi ini dengan menghadirkan produk yang lebih adaptif terhadap kondisi daya listrik rumah tangga.
Pendekatan efisiensi menjadi kunci agar kompor listrik dapat digunakan tanpa membebani kapasitas listrik yang tersedia.
Baca Juga:Robot Rumahan LG CLOiD Dorong “Zero Labor Home”
Ke depan, pengembangan produk Niko akan tetap berfokus pada kebutuhan konsumen yang terus berubah, khususnya dalam hal efisiensi energi dan kemudahan penggunaan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam memperkuat posisinya di pasar perangkat elektronik rumah tangga di Indonesia.



















































