Obrolan Raditya Dika dan dr Tirta yang Bikin Mikir Ulang Soal Persiapan Pensiun

3 hours ago 2

Jakarta -

Obrolan antara Raditya Dika dan dr Tirta soal pensiun mendadak terasa lebih filosofis dari sekadar diskusi finansial.

Bukan semata soal kapan berhenti kerja, melainkan bagaimana memaknai pensiun itu sendiri.

Dalam percakapan tersebut, Radit mengaku sudah mulai mengumpulkan dana pensiun sejak usia 21-22 tahun.

Targetnya tercapai pada 2019, saat usianya sekitar 35 tahun. Secara hitung-hitungan, aset yang ia miliki bahkan sudah mengalahkan inflasi.


Namun, justru di titik itulah muncul pertanyaan baru. Di forum-forum pensiun yang ia ikuti, banyak orang yang sudah berhenti bekerja malah kebingungan.

"Rencana pensiunnya umur 40 sudah lewat. Karena ternyata di grup-grup pensiun yang gua masukin itu semuanya bingung. Heh, gua udah bisa pensiun. Now what? Mereka udah pada berhenti kerja, mereka udah enggak kerja lagi. Semuanya bingung gua ngapain," ujar Raditya Dika di YouTube, Senin (2/3).

Alih-alih merasa bebas, banyak pensiunan yang justru merasa frustrasi.

"Jadi enggak ada kerjaan. Bingung. Tiap hari marah-marah. Frustrasi uring-uringan di forum pensiunan itu terus batal pensiun," ujarnya.

Dari situlah Radit menemukan cara pandang yang berbeda. Ia justru melihat pensiun sebagai tahap untuk memulai sesuatu.

"Jadi bukan pensiun dari sesuatu, tapi pensiun untuk sesuatu. Jadi bukan pensiun dari pekerjaan, tapi pensiun untuk apa?" katanya.

Pernyataan itu menjadi titik balik. Selama ini, banyak orang memaknai pensiun sebagai berhenti dari rutinitas atau tekanan kerja. Padahal menurut Radit, pensiun seharusnya punya arah yang jelas.

"Pensiun itu buat datang. Ini hidup baru gua. Kerja keras gua udah selesai. Sekarang gua datang nih. Yuk kita ngapain dengan sisa hidup gitu," ujarnya.

Dengan reframing tersebut, pensiun bukan lagi soal meninggalkan sesuatu, tetapi tentang memilih tujuan baru.

Ada yang pensiun untuk berkebun, ada yang ingin lebih fokus membesarkan anak, ada pula yang mengejar hobi yang lama tertunda. Bagi Raditya Dika sendiri, makna itu sederhana namun personal.

"Nah, pensiun tuh buat gua sekarang adalah untuk bikin cerita-cerita yang baik yang bisa orang ingat lewat stand up komedi, lewat apa, lewat podcast, lewat macam-macam gitu." ungkapnya.

Dalam percakapan itu, Radit juga mengutip pemikiran yang menohok soal waktu dan uang.

"Tahu enggak ada satu buku yang gua lagi baca dia bilang kayak gini, 'Mau sampai kapan lu kerja keras? Mau sampai kapan lu menukar waktu yang enggak bisa lo dapetin lagi untuk uang yang enggak bisa lu nikmatin karena uangnya udah cukup.'" kata Radit.

"Nah, jadi argumennya adalah sampai kapan el mau kerja keras? Itu pertanyaanku sekarang untuk waktu yang enggak bisa balik lagi itu yang ini 1 jam ini enggak bisa balik lagi. Iya. Benar. Benar. Demi uang yang mungkin kita enggak nikmatin karena sudah cukup," sambungnya.

Menurutnya, pertanyaan itu penting untuk terus diajukan ketika seseorang melakukan sesuatu yang sifatnya monetary. Karena pada titik tertentu, uang mungkin sudah cukup. Tetapi waktu tidak pernah bisa ditambah.

Dalam obrolan tersebut, Radit juga menyinggung konsep dari buku Five Types of Wealth tentang life razor.

"Di situ ada konsep bagus juga yang namanya life razor. Jadi kadang-kadang kita harus punya satu pisau cukur buat motong sesuatu dan ngasih buat kita. Contoh, salah satu contoh di buku itu seorang CEO setiap Selasa jam 06.00 WIB sore dia enggak mau diganggu itu. Itu pisau cukurnya dia, dipotong sama dia. Jam 06.00 WIB dia mau selalu sama istrinya makan malam bareng," jelasnya.

Intinya sederhana, setiap orang perlu batas tegas agar tidak dikonsumsi pekerjaan.

"Semua orang harus punya life razor itu. Kalau enggak lu akan diconsume sama pekerjaan. Iya. Iya. Betul. Dan itu itu akan enggak bisa keulang waktunya," kata Radit.

Konsep ini selaras dengan gagasan tentang pensiun tadi. Bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi secara sadar menentukan untuk apa waktu digunakan.

Obrolan Raditya Dika dan dr Tirta ini menjadi pengingat bagi generasi produktif, jangan sampai kita sibuk menyiapkan masa depan finansial, tetapi lupa menyiapkan tujuan hidup setelahnya.

Karena mungkin yang paling mahal bukan uang, melainkan waktu yang tak pernah bisa kembali.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi