Selular.ID – Para pelaku industri dituntut untuk tidak hanya viralkan produknya di era digital ini, tetapi juga harus menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan nilai lebih bagi produknya.
Hal tersebut diungkapkan dalam acara diskusi SAMA Connect yang dilaksanakan Strategic Asia Marketing Alliance atau SAMA Indonesia bersama sejumlah narasumber.
Pasalnya, di tengah perilaku konsumen yang makin terfragmentasi dan arus konten digital yang kian padat, pendekatan pemasaran yang generik semakin mudah kehilangan relevansi.
Brand dituntut bukan hanya tampil, tetapi juga mampu membaca konteks audiens secara lebih spesifik, mulai dari perilaku, ekspektasi, komunitas, hingga nuansa budaya yang memengaruhi keputusan mereka.
Kerangka isu ini sejalan dengan angle utama forum yang menekankan bahwa broad segmentation dan generic messaging tidak lagi cukup di lanskap digital saat ini.
Hal tersebut yang diungkap dalam SAMA Connect, sebuah program reguler yang diselenggarakan bersama media, komunitas dan ekosistem untuk membahas isu-isu strategis dalam dunia pemasaran, komunikasi, dan bisnis.
Pada edisi ini mengangkat tema “Mengupas Strategi Pemasaran di Era Digital: Seefektif Apakah Marketing Technology & Hyper-localized Marketing?”.
Selain menegaskan komitmen SAMA sebagai aliansi yang memahami perubahan realitas pemasaran di Indonesia, SAMA Connect kali ini juga bertujuan untuk menyoroti bagaimana hyper-localized marketing, data, AI, dan MarTech dapat saling menguatkan dalam membangun strategi pemasaran yang lebih presisi dan relevan.
Baca juga:
- Vakum 5 Tahun, Huawei Siap Boyong Mate 80 Pro ke Indonesia
- Indosat Gandeng NVIDIA, Perluas Akses AI Nasional
Hadir sebagai narasumber SAMA Connect kali ini adalah para founding board member SAMA Indonesia; Arianto Bigman, CEO IDEOWORKS sekaligus President SAMA Indonesia dan Kristyanto, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights.
Selain itu, ada juga Adrian Lesmono, Consumer Country Business Lead NVIDIA Indonesia, dan Anjas Maradita, AI Practitioner dan AI-Based Business Solutions Developer.
Diskusi dipandu oleh Bambang Moegono, CEO Udari yang juga menjadi salah satu founding board member SAMA Indonesia.
Arianto Bigman, President SAMA Indonesia, menegaskan bahwa hyper-localized marketing kini bukan lagi sekadar diferensiasi, melainkan kebutuhan strategis.
“Banyak brand masih tergoda menggunakan formula yang berhasil di pasar atau negara lain lalu menerapkannya begitu saja di Indonesia,” Arianto.
Arianto menambahkan padahal pasar bergerak dengan logika, bahasa, sensitivitas, dan ekspektasinya sendiri.
“Hyper-localized marketing menjadi penting karena efektivitas komunikasi sangat ditentukan oleh kemampuan memahami konteks lokal secara mendalam, mulai dari perilaku audiens, karakter komunitas, hingga nuansa budaya yang memengaruhi keputusan konsumen,” sambungnya.
Menurut Arianto, perkembangan teknologi memang membuka peluang besar bagi pelaku pemasaran untuk bekerja lebih cepat dan lebih presisi.
Namun, ia menekankan bahwa teknologi tidak otomatis menghasilkan strategi yang tepat.
“MarTech, AI, dan data analytics dapat membantu marketer bekerja lebih cepat dan lebih presisi,” ungkapnya.
Namun pendayagunaan teknologi akan semakin berarti bila dipandu oleh strategic thinking yang kuat serta pemahaman yang tajam terhadap kebutuhan nyata pelanggan serta konteks lokal.
“Kami di SAMA memiliki kekuatan pada strategic thinking yang dipadu dengan pemahaman mendalam terhadap efektivitas MarTech,” tegas Arianto.
Sebagai aliansi pelaku strategic marketing di kawasan Asia, SAMA memandang bahwa strategi pemasaran yang efektif tidak bisa sekadar menyadur template atau best practice dari market lain.
Setiap wilayah memiliki isu lokal, karakter budaya, perilaku digital, dan ekspektasi pelanggan yang berbeda.
Karena itu, pendekatan yang lebih tajam justru lahir dari kemampuan menggabungkan perspektif strategis lintas market dengan sensitivitas yang kuat terhadap kebutuhan spesifik audiens di tiap market.
Dalam paparannya, Co-founder & Chief of Product-Project Ivosights Kristyanto menilai tantangan brand saat ini bukan lagi semata soal mengejar engagement yang tinggi, melainkan menjaga agar brand tetap bermakna di tengah dominasi algoritma dan arus konten yang serba cepat.
Sejumlah laporan menyoroti bahwa kampanye dengan engagement tinggi masih banyak didorong konten yang bersifat taktikal, sementara penguatan brand value, positioning, dan brand equity justru kerap terpinggirkan.
Selain itu, perilaku konsumen juga semakin luwes bergerak antar-channel, sehingga brand dituntut hadir secara lebih mulus di berbagai touchpoint.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya bagaimana brand terlihat ramai atau relevan di level algoritma, tetapi bagaimana brand tetap punya makna, konsistensi, dan kedekatan yang nyata dengan audiensnya,” kata Kristyanto.
Dia menyebut di sinilah data, social listening, dan AI menjadi penting.
Bukan hanya untuk membaca pola perilaku konsumen, tetapi juga untuk membantu brand memahami konteks, sentimen, serta memprediksi dan menjawab kebutuhan yang terus berubah.
“Namun, efektivitasnya tetap sangat bergantung pada kecerdasan manusia dalam menerjemahkan insight menjadi strategi yang peka terhadap karakter lokal dan sisi emosional pelanggan,” tandasnya.















































