Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan kenaikan harga plastik yang terjadi belakangan ini tidak terlepas dari dampak konflik global, khususnya di Timur Tengah yang mengganggu pasokan bahan baku.
"Jadi ini bagian dari dampak dari perang ya. Kita itu bahan baku plastik salah satunya adalah nafta. Nafta itu 60 persen kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang harus kita impor dari Timur Tengah," kata Budi dalam konferensi pers di Kantor Staf Presiden, Jakarta Pusat, Rabu (1/4).
Ia menjelaskan ketergantungan terhadap impor bahan baku dari kawasan tersebut membuat Indonesia ikut terdampak ketika terjadi gangguan produksi maupun distribusi. Kondisi ini kemudian berimbas pada kenaikan harga plastik di dalam negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengatasi hal tersebut, Budi mengatakan pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan menstabilkan harga di pasar.
"Nah, apa yang kemudian kita lakukan? Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika. Memang ini butuh waktu ya, karena kan tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain," ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan pelaku industri serta perwakilan Indonesia di luar negeri guna membuka akses terhadap pemasok baru.
"Kita juga berkomunikasi dengan perwakilan kita di luar negeri untuk mencarikan supplier-supplier baru yang bisa memasok ke Indonesia. Karena ini kan tidak terjadi di Indonesia saja," kata Budi.
Menurutnya, gangguan pasokan bahan baku plastik tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga dialami sejumlah negara lain seperti Singapura, China, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Beberapa produsen di negara tersebut bahkan mengalami kondisi force majeure yang turut memengaruhi pasokan global.
"Tapi kita untuk bahan baku terus kita lakukan sehingga produksi di dalam negeri tetap normal kembali dan pasokan plastik tetap terjaga dengan baik," ujarnya.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih bergantung pada impor plastik dan barang dari plastik di tengah kenaikan harga minyak dunia imbas konflik di Timur Tengah. Nilai impor tersebut mencapai US$873,2 juta atau sekitar Rp14,84 triliun (asumsi kurs Rp17 ribu per dolar AS) pada Februari 2026.
Kenaikan harga dan kelangkaan plastik yang dipicu gangguan pasokan global, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz yang mendorong biaya logistik dan energi, mulai dirasakan industri dalam negeri. Ketua Umum Gapmmi Adhi S Lukman menyebut tekanan terhadap industri semakin berat akibat kenaikan biaya bahan baku, energi, serta fluktuasi nilai tukar.
"Jadi saya kira dampaknya sangat luar biasa ya. Pertama, tentunya yang paling cepat itu adalah kenaikan nilai tukar ya. Nilai tukar rupiah dan energi, ini sangat berat sekali buat industri. Karena kita banyak sekali yang harus beli dalam dolar AS. Ini yang paling berat," kata Adhi kepada CNNIndonesia.com, Selasa (31/3).
Ia menambahkan kondisi tersebut juga berkaitan dengan ketersediaan bahan baku plastik yang selama ini banyak dipasok dari Timur Tengah. Gangguan produksi di kawasan tersebut menyebabkan pasokan berkurang signifikan di pasar.
Menurutnya, industri hulu plastik di dalam negeri juga mengalami penurunan produksi hingga sekitar sepertiga kapasitas. Dalam kondisi tersebut, harga plastik melonjak signifikan, bahkan di tingkat pedagang kenaikannya dilaporkan bisa mencapai hingga dua kali lipat.
"Saya dapat info juga bahkan beberapa pedagang plastik itu menaikkan harga bisa sampai 100 persen karena mereka merasa stoknya terbatas, sementara dibutuhkan," kata Adhi.
Kenaikan harga dan kelangkaan ini dinilai akan berdampak langsung pada harga produk kemasan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki keterbatasan stok.
Sejumlah pedagang bahkan melaporkan lonjakan harga plastik sudah terjadi sejak sebelum Lebaran, dengan kenaikan mencapai sekitar Rp6.000 per pak dari sebelumnya sekitar Rp17 ribu menjadi Rp23 ribu. Kenaikan ini membuat biaya operasional meningkat dan margin keuntungan tergerus.
Keluhan serupa juga disampaikan langsung kepada Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan alias Zulhas saat meninjau pasar. Ia menyebut kenaikan harga plastik terjadi secara luas dan dirasakan hampir seluruh pedagang.
"Ini memang tidak hanya pedagang sini, hampir seluruhnya memang mengeluhkan soal harga plastik. Naiknya nggak kira-kira. Ini bukan naik, melonjak," kata Zulhas.
(del/pta)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
3

















































