Puasa Tanpa Salat dan Mengaji, Sahkah Ibadahnya?

5 hours ago 1

#USTAZTANYADONG

CNN Indonesia

Senin, 02 Mar 2026 15:30 WIB

Puasa tetap sah meski tak salat, tapi pahala bisa hilang. Simak penjelasan KH Wahyul Afif Al-Ghafiqi. Ilustrasi. Mengaji dan salat tetap harus dilakukan saat sedang berpuasa, agar pahala semakin berlimpah. (iStockphoto/Fatanfilm)

Jakarta, CNN Indonesia --

Bulan Ramadhan kerap dimaknai sebagai momen memperbaiki diri. Bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga menguatkan hubungan dengan Tuhan lewat salat, mengaji, dan memperbanyak amal.

Namun, bagaimana jika seseorang tetap berpuasa, tetapi tidak menjalankan salat dan juga tidak mengaji?

Pertanyaan ini sering muncul, apalagi di tengah kesibukan dan berbagai alasan pribadi. Dalam program Ramadhan spesial #UstazTanyaDong, CNNIndonesia.com menghadirkan sesi tanya jawab langsung bersama Anggota MUI Kota Bandung sekaligus FKUB Kota Bandung, KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Ustaz Wahyul, secara hukum syariat, puasa orang yang tidak salat tetap sah. Artinya, ia tidak wajib mengqada puasanya selama rukun dan syarat puasanya terpenuhi.

"Puasanya sah secara hukum syariat, dia tidak wajib mengqada. Tapi terancam kehilangan pahala puasanya," ujarnya.

Meski sah, persoalan tidak berhenti di situ. Salat lima waktu adalah kewajiban utama dalam Islam. Jika seseorang dengan sadar meyakini bahwa salat itu wajib, namun sengaja meninggalkannya, maka ia berada dalam posisi yang sangat berbahaya.

"Karena orang tersebut tetap harus menjalankan apa yang jadi kewajibannya yang lain yakni salat lima waktu. Kalau ditinggalkan, dia sadar itu wajib dan benar-benar dia tinggalkan maka dia terancam murtad, keluar dari agama Islam," jelasnya.

Namun, ada perbedaan kondisi. Jika seseorang meninggalkan salat karena malas, tetapi tetap meyakini bahwa salat adalah kewajiban, maka ia tidak otomatis keluar dari Islam. Ia tetap Muslim, tetapi tergolong sebagai orang fasik, yakni orang yang masih melakukan banyak kesalahan dan pelanggaran.

Dengan kata lain, puasanya mungkin sah secara fiqih, tetapi nilai dan keberkahannya bisa sangat berkurang. Ramadhan yang seharusnya menjadi ladang pahala justru terlewat begitu saja.

Lalu bagaimana dengan tidak mengaji?

Berbeda dengan salat, mengaji atau membaca Al-Qur'an hukumnya sunah. Artinya, tidak mengaji tidak membatalkan puasa dan tidak membuat seseorang berdosa sebagaimana meninggalkan kewajiban.

Meski begitu, sangat disayangkan jika Ramadhan dilewati tanpa menambah ilmu agama atau membaca Al-Qur'an. Pasalnya, pahala membaca Al-Qur'an di bulan Ramadan berlipat ganda dibanding bulan biasa.

Ustaz Wahyul menjelaskan bahwa setiap huruf yang dibaca memiliki ganjaran tersendiri.

"Alif satu huruf, lam satu huruf, mim satu huruf. Itu dihitungnya seribu barokah, seribu kebaikan per hurufnya," katanya.

Bayangkan jika dalam sehari seseorang membaca satu halaman saja. Berapa banyak kebaikan yang sebenarnya bisa diraih?

Kata Ustaz Wahyul, puasa tanpa salat memang sah secara hukum, tetapi kehilangan ruhnya. Tidak mengaji memang tidak berdosa, tetapi kehilangan kesempatan emas yang hanya datang setahun sekali.

Ramadhan adalah momentum menyatukan seluruh ibadah. Mulai dari puasa, salat, sedekah, hingga membaca Al-Qur'an dalam satu tarikan napas spiritual. Ketika salah satunya ditinggalkan, ibarat bangunan yang kokohnya berkurang.

Punya pertanyaan lain seputar puasa? Selama bulan Ramadan, CNNIndonesia.com menghadirkan program #UstazTanyaDong. Anda bisa langsung mengirimkan pertanyaan melalui akun media sosial CNN Indonesia dan mendapatkan jawaban langsung dari KH. Wahyul Afif Al-Ghafiqi.

Ramadan bukan cuma soal menahan lapar dan haus, tapi juga belajar lebih tenang, bijak, dan penuh ilmu dalam menjalani ibadah.

(tis/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi