Ramai Sahur Hanya Protein dan Nol Karbo, Memang Lebih Tahan Lapar?

9 hours ago 4

CNN Indonesia

Jumat, 06 Mar 2026 18:30 WIB

Tren sahur tanpa karbohidrat tak jarang diikuti dengan pola makan tinggi protein. Komposisi ini dipercaya dapat menahan lapar lebih lama. Ilustrasi. Tren sahur tanpa karbohidrat tak jarang diikuti dengan pola makan tinggi protein. (iStockphoto/Rimma_Bondarenko)

Jakarta, CNN Indonesia --

Tren sahur tanpa karbohidrat tak jarang diikuti dengan pola makan tinggi protein atau bahkan full protein. Alasannya, protein disebut lebih mengenyangkan dan bisa membantu menahan lapar lebih lama selama puasa.

Namun, apakah mengganti karbohidrat sepenuhnya dengan protein saat sahur benar-benar lebih baik?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata menjelaskan bahwa mengonsumsi protein saja saat sahur bukanlah sesuatu yang berbahaya, selama jenis protein yang dipilih tepat.

"Jika hanya mengonsumsi protein saja saat sahur, sebaiknya protein yang rendah lemak, sebenarnya tidak masalah," ujar Johanes saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jum'at (27/2).

Menurutnya, protein memang memiliki efek kenyang yang lebih lama dibandingkan karbohidrat sederhana. Hal ini karena proses pencernaan protein cenderung lebih lambat, sehingga membantu memperpanjang rasa kenyang.

Johanes menekankan bahwa kualitas protein menjadi faktor penting. Konsumsi protein tinggi lemak justru dapat menimbulkan masalah lain, seperti gangguan pencernaan atau rasa tidak nyaman saat berpuasa.

Ia juga menilai bahwa banyak orang keliru memahami sumber rasa lapar saat puasa. Salah satu penyebab cepat lapar justru berasal dari konsumsi karbohidrat sederhana dalam jumlah besar saat sahur.

"Malahan konsumsi karbohidrat yang banyak dan rendah serat seperti nasi putih cenderung meningkatkan rasa lapar 1-2 jam setelah sahur," jelasnya.

Karbohidrat sederhana dapat meningkatkan gula darah dengan cepat, lalu turun kembali dalam waktu relatif singkat. Penurunan inilah yang sering memicu rasa lapar lebih cepat di pagi hari.

Di sisi lain, protein membantu menjaga kestabilan energi lebih lama.

Kendati demikian, Johannes tidak serta-merta menganjurkan pola makan ekstrem yang sepenuhnya menghilangkan karbohidrat. Menurutnya, pola makan sahur tetap sebaiknya mengacu pada prinsip gizi seimbang.

"Saat makan sahur, usahakan makan yang seimbang dan sehat untuk menunjang aktivitas," katanya.

Sahur dengan gizi seimbang

Johanes menjelaskan bahwa tubuh tetap membutuhkan kombinasi seperti karbohidrat, protein, dan lemak, dalam proporsi yang tepat. Menghilangkan salah satu sepenuhnya tanpa alasan medis tertentu bukanlah pendekatan ideal dalam jangka panjang.

Ia menyarankan jika seseorang ingin mengurangi karbohidrat, pilihlah jenis karbohidrat yang diserap perlahan oleh tubuh agar energi lebih stabil.

"Karbohidrat yang baik adalah karbohidrat lepas lambat yaitu yang diserap perlahan oleh tubuh, seperti nasi merah, talas, nasi campur jagung. Porsinya 1/4 piring diameter 20 cm," jelasnya.

Dalam komposisi yang dianjurkan, seperempat piring diisi karbohidrat kompleks, seperempat lainnya protein rendah lemak seperti dada ayam, ikan, telur, atau tempe, sementara setengah piring sisanya diisi sayuran.

Dengan pola tersebut, tubuh tetap mendapatkan energi yang cukup tanpa memicu lonjakan gula darah yang drastis.

Menurut Johanes, tujuan sahur adalah menjaga energi tetap stabil dan tubuh tetap nyaman selama berpuasa, bukan sekadar menahan lapar selama mungkin.

Ia menilai, keseimbangan jauh lebih penting daripada mengikuti tren diet tertentu yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan tubuh masing-masing.

Sahur tinggi protein bisa menjadi pilihan selama tetap memperhatikan kualitas protein, keseimbangan zat gizi, dan kondisi kesehatan. Mengurangi karbohidrat boleh saja, tetapi tidak perlu sampai menghilangkannya sepenuhnya tanpa pertimbangan yang matang.

(nga/asr)

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi