Review Film: Children of Heaven (2026)

4 hours ago 1

Endro Priherdityo | CNN Indonesia

Jumat, 29 Mei 2026 20:00 WIB

Children of Heaven (2026) adalah film drama karya Hanung Bramantyo. Review film: Children of Heaven (2026) menjadi adaptasi emosional dengan jawaban yang ditunggu penonton 1997, meski belum bisa disebut sempurna. (dok. MD Pictures via YouTube)

Berlian di aksi Jared Ali dan Humaira Jahra serta jawaban film asli, tapi terpeleset di aspek riset.

Jakarta, CNN Indonesia --

Hal yang paling pertama disadari dari Children of Heaven (2026) adalah film ini 'melengkapi' dari apa yang dirasa kurang dari film aslinya pada 1997. Bukan berarti film Hanung Bramantyo ini mengalahkan karya Majid Majidi, tapi dua film itu seperti kembaran beda semesta.

Yang jelas, penulis Oka Aurora dan Hanan Novianti paham betul apa yang dibutuhkan dan disukai oleh penonton Indonesia dalam menulis naskah Children of Heaven (2026): sentuhan drama yang lebih juicy dan naik-turun bagai roller coaster.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu sebenarnya jadi ekspektasi yang wajar mengingat Oka sukses membuat penonton emosional gegara naskah Layangan Putus (2021, 2023) dan Ipar adalah Maut (2024). Namun bedanya, kali ini naskah Oka tak terlalu seperti sinetron macam dua judul tersebut.

Detail-detail dari Children of Heaven (1997) yang dirasa janggal untuk sudut pandang penonton Indonesia saat ini dimodifikasi dengan sentuhan halus untuk Children of Heaven (2026).

Beberapa di antaranya seperti alasan logis sepatu Zahra jatuh ke selokan, latar keluarga Yeni atau dalam film aslinya bernama Roya, situasi ekonomi yang dihadapi keluarga Ali dan Zahra, hingga akhir yang pantas untuk perjuangan Ali juga Zahra.

Memang ada beberapa cerita yang masih mengundang pertanyaan, seperti seberapa jauh sekolah Ali dan Zahra, berapa durasi mereka bersekolah dalam sehari, serta posisi sekolah Ali dan Zahra yang berbeda karena gender padahal masih dalam organisasi penaung yang sama.

Masalah sekolah tersebut memang cukup tricky. Bila dalam film aslinya, sangat dipahami Ali dan Zahra berbeda sekolah karena Iran menggunakan prinsip syariat Islam dalam kehidupan bernegara dan sehari-hari.

Sementara di Indonesia, tidak demikian. Apalagi Ali dan Zahra versi Hanung ini juga tidak bersekolah di pesantren yang lebih memungkinkan terjadinya pemisahan sekolah berbasis gender.

Children of Heaven (2026) adalah film drama karya Hanung Bramantyo yang merupakan adaptasi dari film Iran, Children of Heaven (1997) karya Majid Majidi.Review Children of Heaven (2026): Detail-detail dari Children of Heaven (1997) yang dirasa janggal untuk sudut pandang penonton Indonesia saat ini dimodifikasi dengan sentuhan halus untuk Children of Heaven (2026). (dok. MD Pictures via YouTube)

Meski begitu, Oka dan Hanan dengan cerdas menyisipkan selipan-selipan komedi yang dibutuhkan oleh cerita ini bila memang ingin disajikan ke penonton Indonesia. Hal itu karena bila saklek mengikuti film aslinya, sudah pasti banyak penonton yang berjuang untuk tidak terus-terusan menguap.

Beruntungnya, tim casting yang diisi oleh Sanjay Mulani dan Widhi Susila Utama sukses memilih orang-orang yang pas dengan formula Oka dan Hanan, terutama meningkatkan arti penting Kepala Sekolah, Guru Olahraga, dan Wali Kelas dari Ali yang diperankan dengan mulus oleh Muhadkly Acho, Oki Rengga, dan Dodit Mulyanto.

Bila dalam film sebelumnya ketiganya hanya sekadar pemeran pendukung yang lebih mirip kameo, kali ini mereka memiliki peran dan kedekatan emosi yang lebih dalam dengan Ali.

Walaupun kebiasaan Kepala Sekolah Slamet untuk memantunkan seluruh kalimatnya memanglah tak realistis, tapi justru itu dibutuhkan untuk memberikan ruang penonton untuk mengendurkan saraf dari cerita nelangsa keluarga Ali dan Zahra.

Selain itu, Muhadkly Acho agaknya bisalah 'bersaing' dengan Reza Rahadian dalam memerankan segala jenis peran, walau sejauh ini masih dalam area sidekick. Keduanya terbilang sineas yang langka di Indonesia saat ini, piawai di depan maupun di balik kamera.

Children of Heaven (2026) adalah film drama karya Hanung Bramantyo yang merupakan adaptasi dari film Iran, Children of Heaven (1997) karya Majid Majidi.Review Children of Heaven (2026): Muhadkly Acho agaknya bisalah bersaing dengan Reza Rahadian dalam memerankan segala jenis peran, walau sejauh ini masih dalam area sidekick. Namun keduanya terbilang sineas yang langka di Indonesia saat ini, piawai di depan maupun di balik kamera. Foto: (dok. MD Pictures via YouTube)

Kegemaran Hanung dalam memberikan colekan soal sosial-politik Indonesia ke film yang ia garap juga tersaji dengan porsi yang pas, walaupun sebenarnya akan bisa jadi diskusi yang panjang mengapa tim kreatif memilih latar 1988 dan bukan kondisi '97 sesuai film aslinya.

Apalagi kalau berkaitan dengan kemiskinan, dan harga pangan yang melonjak seperti yang dinarasikan karakter penjual tempe (Didik Nini Thowok) dalam versi Hanung ini, mestinya pilihan 1993-1997 ketika Kabinet Pembangunan VI memerintah jadi pilihan paling logis.

Terlepas dari alasan apa pun di balik keputusan memilih 1988, Hanung mampu menjaga dengan baik naskah yang ditulis Oka dan Hanan. Bahkan, Hanung terasa lebih luwes dalam memainkan mood dan sajian visualnya, seperti menggunakan one long shot sebagai pembuka yang cerdas dalam menekankan latar ceritanya.

Faozan Rizal yang bertanggung jawab akan kamera juga mampu menerjemahkan keinginan Hanung tersebut dengan sangat baik. Ada banyak frame dalam film ini terbilang estetik dengan porsi yang pas, tanpa harus terkesan mempercantik kondisi kemiskinan yang dihadapi Ali dan Zahra.

Tim seni, kostum, dan desain produksi juga patut mendapatkan kredit kerja kerasnya menunjukkan kehidupan di Semarang 40 tahun lalu. Tak mudah memang, apalagi mengingat perubahan yang sudah terjadi. Namun menemukan dan membangun lokasi yang pas secara logika cerita juga pesan cerita Children of Heaven (2026) sangat layak diapresiasi.

Hanya ada koreksi terkait wardrobe dalam Children of Heaven (2026) ini. Pertama adalah bentukan jilbab lilit leher Zahra yang dirasa terlalu chic untuk seorang anak SD tahun '80-an. Apalagi jilbabnya juga tidak sepadan dengan rok tanggung yang dikenakan Zahra.

Children of Heaven (2026) adalah film drama karya Hanung Bramantyo yang merupakan adaptasi dari film Iran, Children of Heaven (1997) karya Majid Majidi.Review film Children of Heaven (2026): Performa Jared Ali dan Humaira Jahra dan didukung dengan akhir yang pantas untuk karakter Ali dan Zahra, Children of Heaven (2026) jelas bagai jawaban yang selama ini ditunggu oleh penonton Children of Heaven (1997). (dok. MD Pictures via YouTube)

Selain itu, mengingat latar cerita ini berada pada dekade 80-an, pada saat itu anak sekolah dilarang mengenakan jilbab setelah pemerintahan Soeharto mengeluarkan panduan seragam pada 1982. Dan baru 1991, jilbab diakui sebagai salah satu seragam.

Kemudian sayang sekali momen sol sepatu Ali jebol setelah marathon yang ditampilkan dalam film asli 1997 kurang diekspos oleh Hanung untuk versi 2026. Padahal, selain daripada flashback kenangan Ali, Majid Majidi memberikan sentuhan yang sangat emosional lewat adegan tersebut.

Meski begitu, buket bunga terbesar untuk film ini sangat patut diberikan untuk Jared Ali dan Humaira Jahra, yang entah kebetulan atau tidak, memiliki nama yang serupa dengan karakter dalam film ini.

Jared Ali dan Humaira Jahra adalah berlian dalam cerita Children of Heaven, baik 1997 atau pun 2026. Kualitas akting dan chemistry mereka jauh lebih terasa sebagai kakak-adik dibanding Amir Farrokh Hashemian dan Bahare Seddiqi selaku pemeran aslinya.

Performa Jared Ali dan Humaira Jahra dan didukung dengan akhir yang pantas untuk karakter Ali dan Zahra, Children of Heaven (2026) jelas bagai jawaban yang selama ini ditunggu oleh penonton Children of Heaven (1997).

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi