Gisella Keilsa | CNN Indonesia
Jumat, 20 Mar 2026 19:20 WIB
Endro Priherdityo
Sebagai sajian keluarga di momen Lebaran, Na Willa berhasil memenuhi syarat sebagai tontonan yang utuh.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ryan Adriandhy kembali membawa sajian penuh magis imajinasi dan warna ke layar lebar. Bila tahun lalu melalui animasi fenomenal Jumbo, kali ini Ryan menampilkannya dalam film live-action bertajuk Na Willa.
Dalam film yang didasarkan dari Na Willa: Serial Catatan Kemarin (2012) karya Reda Gaudiamo ini, Ryan menghadirkan dunia Na Willa yang penuh warna --secara harfiah-- sekaligus membawa penonton menyelami imajinasi bocah enam tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Ryan dan tim bukan hanya sukses menampilkan film dengan latar belakang Surabaya dekade 1960-an, tetapi membuat penonton melintasi ruang waktu kembali ke pengalaman masa kecil masing-masing.
Hal itu terlihat dari detail-detail adegan fragmen keseharian Na Willa yang ditulis Ryan untuk ditampilkan di layar, sorotan dan fokus adegan, hingga tata letak ruangan dan dekorasi yang membuka kotak Pandora kenangan masa kecil penonton.
Ambil contoh seperti saat Na Willa memainkan tumpukan kacang hijau di warung Cik Mien yang mengingatkan penonton betapa menyenangkan memainkan beras menggunung saat mampir ke warung, walau dipikir-pikir saat ini tidak ada alasan penting yang mendukung sensasi menyenangkan itu.
Atau ketika Na Willa selalu gagal mendapatkan peliharaan anak ayam di pasar oleh Mak dengan alasan "nanti saja, kapan-kapan" yang menjadi senjata andalan orang dewasa untuk menunda memenuhi keinginan polos anak-anak.
Ryan sukses menangkap kejujuran dan kepolosan anak berusia enam tahun yang ditulis Reda dan menampilkannya secara universal di layar lebar.
Seperti yang ditulis oleh Ryan di awal durasi bahwa film ini adalah "karya banyak orang", Na Willa tak akan bisa semagis itu tanpa dukungan tim desain produksi, sinematografi, editing, efek visual, animasi, scoring dan musik, hingga kostum dan tata rias.
Review Na Willa: Ryan sukses menangkap kejujuran dan kepolosan anak berusia enam tahun yang ditulis Reda dan menampilkannya secara universal di layar lebar. (Visinema Studios)
Semua tim terlihat memiliki peran yang sama krusialnya dalam film berdurasi 118 menit ini, dan berhasil melakukan tugasnya dengan sangat baik.
Tim desain produksi jelas bekerja dengan sangat detail dan presisi dalam mengeset lokasi syuting, bukan hanya penuh warna tanpa bikin mata penonton lelah, tetapi juga cukup ruang untuk eksplorasi teatrikal cerita dan efek visual saat penyuntingan.
Yadi Sugandi yang memimpin di balik kamera juga mampu menyesuaikan sudut pandang kamera dengan pandangan Na Willa dan karakter-karakter orang dewasa di sekitarnya.
Terlihat dari bagaimana sebagian karakter orang dewasa masuk frame hanya dari paha ke bawah, sampai bagaimana kamera membuat penonton seolah menunduk berbicara dengan Na Willa secara langsung.
Tim animasi dan efek visual yang terdiri dari berbagai grup ini juga berhasil menghias gambar adegan yang menguatkan naskah Ryan Adriandhy, seperti kemunculan ikan bandeng bermata banyak hingga kelopak bunga yang bermekaran di sepanjang langkah kaki.
Eksekusi ini menjadi bukti nyata bahwa Ryan dan tim memahami bagaimana cara menerjemahkan pikiran abstrak anak-anak ke dalam medium visual yang memikat dan penuh keajaiban.
Namun Na Willa memang tak sepenuhnya film dari POV anak-anak. Ryan menyelipkan dilema yang dirasakan seorang ibu yang membesarkan anaknya yang masih kecil seorang diri, terutama setelah melihat langsung sebuah tragedi.
Review film Na Willa: Ryan menyelipkan "problematika pengasuhan orang tua" dalam kisah Na Willa, saat rasa dan dorongan ingin melindungi justru malah seperti mengerangkeng, dilema antara bohong vs "white lies", atau saat harus berdiri membela anak sendiri. (Visinema Studios)
Ryan menyelipkan "problematika pengasuhan orang tua" dalam kisah Na Willa, saat rasa dan dorongan ingin melindungi justru malah seperti mengerangkeng, dilema antara bohong vs "white lies", atau saat harus berdiri membela anak sendiri.
Kisah tersebut menggambarkan bahwa menjadi orang tua dan mendidik anak bukan berarti berhenti untuk belajar, sekaligus pengingat bahwa proses belajar dan adaptasi --termasuk dalam mengasuh dan menghadapi anak-- adalah aktivitas sepanjang hayat.
Hanya saja, keputusan Ryan mengadaptasi gaya bicara ala '60-an dan logat khas menyesuaikan karakter Mak, membuat bagi sebagian orang merasa percakapan ibu dengan anak menjadi sangat baku untuk hubungan yang semestinya terasa hangat tanpa batasan formal.
Selain itu ada sejumlah adegan yang mestinya komikal dan mengundang tawa tetapi ternyata menjadi kurang nendang, sehingga terasa agak nanggung.
Meski begitu, keberagaman dalam karakter dan cerita Na Willa memang lebih dari sekadar bumbu cerita. Ryan menyisipkan tema keberagaman budaya dan toleransi tersebut tanpa kesan menggurui.
Melalui kacamata Na Willa, perbedaan ras dan agama di masyarakat Indonesia dihadirkan secara ringan dan hangat. Sebuah kondisi yang mestinya terus hidup dalam masyarakat Indonesia yang begitu majemuk sejak dulu.
Sebagai sajian keluarga di momen Lebaran, Na Willa berhasil memenuhi syarat sebagai tontonan yang utuh: ada tawa, persahabatan, hingga nilai-nilai kejujuran yang universal.
Hingga tiba di akhir durasi, Na Willa terasa seperti pengalaman emosional yang membuka laci kenangan masa kecil yang sederhana, tetapi begitu membekas di hati.
Ryan Adriandhy berhasil mengingatkan bahwa dunia orang dewasa yang penuh kekhawatiran ini sebenarnya tetap ajaib dan penuh warna, selama melihatnya dengan mata anak kecil dalam diri masing-masing.
(end)
Add
as a preferred source on Google

5 hours ago
1

















































