Review Film: Songko

8 hours ago 1

Endro Priherdityo | CNN Indonesia

Rabu, 29 Apr 2026 20:00 WIB

 Songko memang dimulai dengan niat yang baik, tetapi membuat film tidak hanya butuh niat. Review film: Songko memang dimulai dengan niat yang baik, tetapi membuat film tidak hanya butuh niat. (Dunia Mencekam Studio/Rumah Produksi Santara)

Songko memang dimulai dengan niat yang baik, tetapi membuat film tidak hanya butuh niat.

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagai seorang sutradara pendatang baru dari yang biasanya duduk di balik meja penulis naskah, keinginan Gerald Mamahit dalam membuat Songko sebenarnya adalah niat yang positif untuk khazanah film horor Indonesia.

Indonesia yang memiliki berbagai folklor daerah begitu kaya, memang terlalu sayang bila hanya dikaitkan dengan dedemit dari daerah dan budaya tertentu. Namun membuat film memang tidak hanya butuh niat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam film ini, Gerald Mamahit yang berasal dari Sulawesi Utara mengangkat folklor yang terkenal dari kawasan tersebut, yakni songko. Songko sendiri dalam banyak penuturan memiliki berbagai penggambaran, dari yang bilang mirip kuyang hingga berbentuk orang tua mengenakan songkok (peci) tapi tanpa wajah.

Pengalaman Gerald ikut menulis sejumlah film horor sejak KKN Di Desa Penari (2022) tampaknya sudah memberikan modal yang cukup dalam gambaran konstruksi Songko. Sayangnya, eksekusinya ada banyak catatan.

Pertama, Gerald perlu mempertajam penyusunan cerita yang ia tulis pada film ini. Gerald terasa terlalu terbebani untuk memberikan pesan bijak dalam Songko, apalagi pesan itu adalah petuah klasik masyarakat Tomohon yang jadi bagian latar budaya sang sutradara.

Selain itu, Gerald juga terlalu bertele-tele dan nanggung dalam memberikan kejutan seperti jumpscare kepada penonton. Hal ini membuat Songko lebih terasa seperti film drama keluarga yang kebetulan berbalut horor.

Belum lagi dengan penyusunan cerita dan misteri yang disusun oleh Gerald. Gerald memang terlihat berusaha untuk menyimpan jawaban atas misteri songko yang meneror desa di akhir, sayangnya itu tidak terlihat di layar lebar.

Entah disengaja atau tidak, Gerald bahkan sejak awal cenderung memberi tahu jawaban yang mestinya jadi kejutan yang menggetarkan emosi itu. Ia membocorkannya mulai dari dialog, narasi, hingga gerak-gerik para pelakonnya.

Film Songko (2026). (Dunia Mencekam Studio/Rumah Produksi Santara)Review Film Songko (2026): Dengan lokasi dan desain produksi macam itu, Gerald semestinya bisa sangat mungkin membuat teror songko menurut masyarakat Tomohon ini jadi lebih misterius, mistis, bahkan traumatis, dengan menghubungkannya dengan aktivitas sehari-hari. (Dunia Mencekam Studio/Rumah Produksi Santara)

Cerita yang ia tulis sendiri juga terlihat lebih banyak bermain dalam zona aman dan standar baku. Gerald belum berani memberikan bumbu-bumbu drama, thriller mencekam, atau jumpscare nendang untuk memacu adrenalin penonton. Padahal, Gerald memiliki ruang yang sangat luas untuk melakukan itu semua di berbagai babak cerita.

Kesan mubazir semakin terasa mengingat latar lokasi yang digunakan untuk syuting film ini sebenarnya sangat mendukung untuk pengembangan cerita folklor yang mencekam, menakutkan, dan membuat merinding.

Dengan lokasi dan desain produksi macam itu, Gerald semestinya bisa sangat mungkin membuat teror songko menurut masyarakat Tomohon ini jadi lebih misterius, mistis, bahkan traumatis, dengan menghubungkannya dengan aktivitas sehari-hari.

Apalagi Gerald juga memodifikasi bentuk songko menjadi lebih demonik dengan menggunakan efek visual seperti CGI, walaupun sebenarnya akan terasa lebih menakutkan bila menggunakan pemain sungguhan dan permainan tata rias.

Bagian lain yang sepatutnya bisa dieksekusi lebih baik adalah pada bagian konflik dan resolusinya. Gerald memang sudah menyusun bahan cerita yang menjanjikan untuk menjadi klimaks dari film ini. Sayangnya, Gerald membuat penyelesaian konflik terlalu santun. Mungkin akan terasa lebih memuaskan penonton bila Gerald bisa 'kerasukan' Kimo Stamboel dan dokter Tirta pada bagian tersebut.

Bisa jadi Gerald memang fokus untuk menyampaikan pesan leluhur yang ia singgung dalam film ini, atau ia masih belum cukup percaya diri tampil ugal-ugalan di film pertama yang ia garap ini.

[Gambas:Youtube]

Beruntungnya, Mikael Brahmawan selaku sinematografer memiliki mata yang tajam dalam mengambil gambar untuk film ini. Ia bisa memanfaatkan dengan baik lokasi dan lanskap alamnya untuk dibawa ke layar. Selain itu, tim desain produksi dan seni juga terlihat bekerja dengan baik dalam mendukung cerita folklor ini.

Tak ada yang banyak bisa dibahas dari aksi Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, dan Tegar Satrya dalam membawakan keluarga yang canggung dan penuh dengan misteri di film ini, mengingat naskahnya saja masih perlu digodok lebih lama.

Meski Songko punya seabrek catatan, bukan berarti bahwa film yang diangkat dari folklor daerah di Indonesia tak bisa tampil lebih baik. Apalagi film horor Indonesia katanya sudah mulai menarik perhatian penggemar film dunia.

Mengingat Indonesia bukan hanya berasal dari satu pulau atau satu kebudayaan saja, ini justru jadi waktu yang tepat untuk folklor mistis dari berbagai daerah dan budaya di Indonesia menghantui dunia, tentu dengan sajian yang bisa dibanggakan.

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi