Steroid untuk Wajah, Aman atau Berbahaya? Ini Kata Dokter

3 hours ago 1

CNN Indonesia

Minggu, 01 Mar 2026 14:30 WIB

Steroid kerap dianggap berbahaya. Dokter jelaskan cara aman penggunaan dan risiko bila dipakai tanpa pengawasan. Ilustrasi. Penggunaan steorid untuk perawatan kulit sebenarnya sah saja, asal sesuai anjuran dokter. (iStock/HappyNati)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus viral seorang wanita di Jakarta Selatan yang mengalami breakout parah setelah menggunakan krim etiket biru selama 10 tahun kembali memicu kekhawatiran publik soal kandungan steroid dalam produk perawatan kulit.

Di media sosial, tak sedikit warganet menilai steroid sebagai zat berbahaya yang sebaiknya dihindari sepenuhnya, terutama untuk penggunaan di wajah.

Dokter spesialis kulit dari Klinik Dermalogia, Arini Astasari Widodo, menegaskan anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Dalam dunia dermatologi, kortikosteroid topikal justru menjadi salah satu terapi utama untuk mengatasi berbagai kondisi peradangan kulit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kortikosteroid topikal adalah obat anti-inflamasi yang sangat efektif dan merupakan salah satu gold standard dalam dermatologi untuk mengatasi peradangan kulit seperti dermatitis, eksim, psoriasis, atau reaksi alergi," ujar Arini saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (26/2).

Menurut Arini, steroid bekerja dengan menekan proses inflamasi pada kulit sehingga kemerahan, bengkak, dan rasa gatal dapat mereda. Dalam kondisi tertentu, penggunaannya bahkan menjadi terapi paling cepat dan efektif untuk mencegah peradangan meluas atau bertambah berat.

Namun, ia menekankan bahwa persoalan muncul ketika steroid digunakan tanpa diagnosis yang jelas dan tanpa pengawasan medis.

"Yang berbahaya bukan steroidnya, tetapi penggunaan yang tidak tepat dan tanpa pengawasan," tegasnya.

Diagnosis adalah kunci

Arini menjelaskan, tidak semua kemerahan atau keluhan kulit membutuhkan steroid. Jerawat biasa, misalnya, tidak selalu memerlukan terapi anti-inflamasi kuat seperti steroid.

Begitu pula dengan infeksi jamur yang justru dapat memburuk bila diberi steroid tanpa pengobatan yang sesuai.

Karena itu, diagnosis menjadi kunci utama sebelum memutuskan penggunaan krim yang mengandung steroid. Dokter akan menentukan apakah kondisi pasien memang termasuk inflamasi yang membutuhkan steroid atau memerlukan terapi lain.

Selain diagnosis, pemilihan potensi juga tak kalah penting. Steroid topikal memiliki tingkatan potensi, mulai dari ringan (mild), sedang (moderate), hingga kuat (potent).

Pemilihannya tidak bisa sembarangan karena tiap area tubuh memiliki karakteristik kulit yang berbeda.

Kulit wajah, misalnya, lebih tipis dan sensitif dibandingkan lengan atau punggung. Karena itu, wajah umumnya hanya diberikan steroid dengan potensi rendah dan dalam waktu terbatas.

Bukan untuk perawatan harian

Arini menegaskan, steroid bukanlah krim perawatan harian atau produk kosmetik. Penggunaannya sebagai krim pencerah atau untuk menjaga wajah tetap mulus dalam jangka panjang sangat tidak dianjurkan.

Umumnya, steroid topikal digunakan hanya dalam beberapa hari hingga satu atau dua minggu, kecuali terdapat indikasi khusus yang tetap berada dalam pengawasan dokter. Penggunaan jangka panjang tanpa evaluasi dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti penipisan kulit, kemerahan menetap, hingga ketergantungan.

"Steroid itu seperti pisau bedah, sangat bermanfaat bila digunakan tepat, tetapi bisa merusak jika disalahgunakan," kata Arini.

Ia menilai edukasi menjadi faktor penting untuk mencegah kasus serupa. Masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua keluhan kulit harus langsung diatasi dengan steroid, dan tidak semua steroid bersifat berbahaya.

Dengan diagnosis yang tepat, pemilihan potensi yang sesuai, serta durasi penggunaan yang terkontrol, steroid tetap menjadi terapi yang aman dan efektif.

Arini juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur klaim hasil instan tanpa memahami kandungan produk. Perubahan kulit yang terlalu cepat, misalnya wajah mendadak sangat cerah atau kemerahan langsung hilang, justru patut diwaspadai.

Penggunaan obat topikal, terutama yang mengandung steroid, sebaiknya selalu berada dalam pengawasan tenaga medis.

(nga/tis)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi