CNN Indonesia
Rabu, 01 Apr 2026 01:00 WIB
Ilustrasi. Menurut studi terbaru yang dilakukan selama 21 tahun, diet Mediterania ternyata bisa kurangi risiko stroke hingga 25 persen. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ada beragam macam diet, termasuk diet Mediterania. Namun diet yang satu ini ternyata bisa kurangi risiko stroke hingga 25 persen berdasarkan penelitian selama 21 tahun.
Dalam sebuah penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Amerika Serikat dan Yunani, diet Mediterania dikaitkan dengan risiko stroke lebih rendah secara keseluruhan, termasuk stroke iskemik dan stroke hemoragik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Stroke iskemik merupakan yang paling umum. Ini bisa terjadi ketika aliran darah ke sebagian otak terhambat. Adapun stroke hemoragik disebabkan oleh pendarahan di otak.
"Temuan kami mendukung makin banyaknya bukti bahwa diet sehat sangat penting untuk pencegahan stroke," ujar Sophia Wang, penulis utama penelitian, seperti diberitakan The Guardian.
Apa itu diet Mediterania?
Diet Mediterania itu sendiri, mengutip Cleveland Clinic, merupakan pola makan yang mengedepankan sumber makanan nabati dan lemak sehat. Anda akan lebih banyak makan sayuran, buah, kacang dan biji-bijian, dan menggunakan minyak zaitun ekstra virgin sebagai sumber lemak sehat.
Anda tetap bisa makan daging, tetapi lebih banyak ikan dan daging unggas ketimbang daging merah. Makanan dan minuman manis, serta mentega, tentu sangat dihindari.
Disebut sebagai diet Mediterania, karena ini merupakan pola makan masyarakat pada pertengahan abad ke-20. Para peneliti sudah sering menghubungkan pola makan ini dengan penurunan risiko penyakit jantung koroner.
Hasil penelitian selama dua dekade
Studi tersebut melibatkan 105.614 perempuan di California dengan usia rata-rata 53 tahun dan tidak memiliki riwayat stroke pada awal studi.
Para peserta studi diberikan penilaian dengan skor nol sampai sembilan terkait seberapa dekat mereka mengikuti diet Mediterania. Dari penilaian ini, 30 persen peserta memiliki skor enam hingga sembilan (kelompok tertinggi), dan 13 persen memiliki skor nol hingga dua (kelompok terendah). Sisanya berada di tengah-tengah.
Semua peserta dipantau selama rata-rata selama 21 tahun. Peserta di kelompok tertinggi, memiliki kemungkinan 18 persen lebih rendah mengalami stroke ketimbang peserta di kelompok terendah.
Kelompok tertinggi juga 16 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami stroke iskemik dan 25 persen lebih kecil mengalami stroke hemoragik.
Pantauan terhadap para peserta penelitian ini sudah disesuaikan dengan faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi risiko stroke, seperti merokok, aktivitas fisik, dan tekanan darah tinggi.
"Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan, jadi sangat menggembirakan untuk berpikir bahwa memperbaiki pola makan kita dapat mengurangi risiko terkena penyakit yang menghancurkan ini," tutur Wang.
Secercah harapan untuk mengurangi risiko stroke hemoragik
Menurut Wang, studi lebih lanjut diperlukan untuk mengonfirmasi temuan tersebut. Para peneliti perlu memahami mekanisme di balik diet Mediterania agar bisa mengidentifikasi cara-cara baru untuk mencegah stroke.
Studi ini memang memiliki keterbatasan, karena hanya meneliti perempuan dan berdasarkan laporan data diet dari para peserta.
Di sisi lain, Wang mengungkapkan penelitian ini menarik karena temuannya berlaku pula untuk stroke hemoragik. Pasalnya, studi terkait jenis stroke ini masih terbatas.
Hal ini diamini oleh Juliet Bouverie, kepala eksekutif Stroke Association, yang mengungkapkan penelitian ini sebagai potensi besar untuk mengurangi kemungkinan seseorang mengalami stroke.
"Stroke hemoragik, meskipun lebih jarang terjadi, jauh lebih parah, jadi sangat melegakan bahwa penelitian ini memberikan pencerahan pada subtipe yang penting tetapi kurang diteliti ini," ujar Bouverie.
(rti)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
2

















































