Jakarta, CNN Indonesia --
Dua siswa Indonesia asal Sulawesi Selatan dan Subang membawa cerita membanggakan usai berhasil mendapat pengakuan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Penghargaan tersebut diberikan karena mereka berhasil menemukan celah keamanan atau bug dalam sistem NASA.
Pencarian bug sistem ini merupakan bagian dari Vulnerability Disclosure Program (VDP). Rehan, siswa di SMAN 8 Pinrang, mengikuti program tersebut pada Januari 2026 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia awalnya sempat ragu akan bisa menemukan celah keamanan dari badan antariksa yang baru mengirim awaknya mengitari Bulan tersebut. Namun, ia yakin selalu ada celah dalam sebuah sistem.
"Alhamdulillah saya bisa tahap mengambil username dari website NASA dan atas dedikasi ini, saya mendapatkan apresiasi resmi dan nama saya tercatat dalam Hall of Fame NASA," kata Rehan, dikutip dari Detik pada Selasa (4/5).
Rehan telah mengenal dunia IT sejak bangku SMP. Sejak saat itu, ia mempelajari bidang keamanan siber secara autodidak melalui Google dan YouTube. Awalnya ia belajar hanya menggunakan ponsel, hingga orang tuanya mendukung dan membelikannya laptop.
Selain penghargaan dari NASA, Rehan juga pernah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) serta dari kampus-kampus bergengsi dari luar negeri.
"Selain dari NASA pernah juga ada penghargaan dari Komdigi dan kampus bergengsi luar negeri seperti TU Dresden di Jerman, University of Oslo, dan San Diego State University. Semuanya masih terkait dengan keamanan siber," tutur Rehan.
Ke depannya, Rehan mengatakan masih akan terus mengasah kemampuan agar bisa sukses dalam bidang yang tengah ditekuni, memberi manfaat, serta membanggakan orang tua.
Tak hanya Rehan, cerita membanggakan ini juga datang dari Firoos Ghathfaan Ramadhan, siswa kelas 8 SMP IT Alamy Subang, Jawa Barat.
Firoos mendapatkan apresiasi dari NASA usai menemukan celah keamanan menggunakan teknik Open Source Intelligence (OSINT) atau metode pengumpulan data dari sumber terbuka.
"Aku tuh bareng temen-temen dari komunitas spectra.id itu tuh bareng-bareng banyakan. Aku teh belajar bareng, nge-Zoom bareng. Nah, pas dapetnya juga barengan, tapi ada juga yang nggak dapat, ditolak sama NASA-nya," kata Firoos.
Firoos mengaku mengikuti ajang tersebut karena sedang mengincar ASEAN Scholarship agar bisa masuk SMA di Singapura.
(lom/lom)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1
















































