Trump Membual Tak Butuh Selat Hormuz: AS Tak Impor Minyak Lewat Sana

6 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan negaranya tidak bergantung pada Selat Hormuz untuk pasokan minyak, di tengah gejolak pasar energi global akibat perang di Timur Tengah.

Dalam pidatonya, Trump menegaskan Amerika hampir tidak mengimpor minyak melalui jalur strategis tersebut dan tidak akan melakukannya di masa depan.

"Amerika Serikat hampir tidak mengimpor minyak melalui Selat Hormuz dan tidak akan melakukannya ke depan. Kami tidak membutuhkannya," ujar Trump dikutip CNN, Kamis (2/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, sebagai salah satu produsen minyak dan gas terbesar dunia, AS dinilai cukup aman dari gangguan pasokan imbas konflik di Timur Tengah tersebut.

Namun ternyata, bualan Trump itu berbanding terbalik dengan kondisi di lapangan, di mana harga BBM di AS telah melonjak hingga di atas US$4 per galon, level tertinggi sejak 2022.

Trump juga mendesak negara lain yang bergantung pada Selat Hormuz harus mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan jalur tersebut. Ia bahkan menyarankan negara-negara yang mengalami kekurangan pasokan energi untuk membeli dari AS.

"Negara-negara yang menerima minyak melalui Selat Hormuz harus menjaga jalur itu. Kami akan membantu, tetapi mereka yang harus memimpin," katanya.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia, menurut International Energy Agency. Sebagian besar pasokan yang melintas di jalur tersebut dikirim ke negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi dari kawasan Teluk.

Pernyataan Trump juga dinilai mengabaikan dampak lebih luas dari perang yang dimulai dari agresi AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Invasi dua negara itu serta aksi pembalasan yang dilakukan Teheran telah mengguncang pasar global dan membebani negara-negara sekutu di Asia dan Eropa.

Meski Trump mengklaim harga energi akan segera turun setelah perang berakhir dan Selat Hormuz kembali dibuka, sejumlah ekonom dan analis meragukan hal tersebut.

Mereka memperingatkan kerusakan infrastruktur energi serta gangguan pasokan yang berkepanjangan berpotensi membuat harga minyak global tetap tinggi, bahkan jika perang segera mereda.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi