Jakarta, CNN Indonesia --
Sebanyak 27 negara bergerak menyiapkan instrumen krisis untuk mengakses pendanaan cepat dari program-program Bank Dunia alias World Bank sejak perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) pecah.
Informasi tersebut tercantum dalam dokumen Bank Dunia yang dilihat Reuters.
Sayangnya dokumen itu tidak merinci negara-negara yang dimaksud maupun total nilai dana yang berpotensi diajukan. Bank Dunia pun menolak memberi komentar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dokumen itu menunjukkan tiga negara telah menyetujui instrumen baru sejak konflik Timur Tengah dimulai pada 28 Februari, sedangkan negara-negara lainnya masih menyelesaikan prosesnya," tulis Reuters dalam laporannya yang dikutip Senin (25/5).
Pejabat di Kenya dan Irak telah mengonfirmasi kalau pihaknya tengah mengajukan dukungan keuangan cepat dari Bank Dunia untuk meredam dampak perang.
Di Kenya, tekanan muncul imbas lonjakan harga bahan bakar. Sementara di Irak, perang memicu penurunan tajam pendapatan minyak negara tersebut.
Adapun 27 negara yang dikabarkan mengajukan utang dari World Bank merupakan bagian dari 101 negara yang memiliki akses terhadap berbagai instrumen pembiayaan, sebagaimana telah disiapkan sebelumnya oleh Bank Dunia dan bisa digunakan saat krisis.
Dari total 101 negara, 54 negara telah bergabung dalam Rapid Response Option, skema yang memungkinkan negara menggunakan maksimal 10 persen dari pembiayaan yang belum dicairkan.
Bulan lalu, Presiden Bank Dunia Ajay Banga mengatakan perangkat krisis yang dimiliki lembaganya memungkinkan negara-negara menarik pembiayaan kontinjensi yang telah disiapkan, memanfaatkan saldo proyek yang masih tersedia, serta instrumen pencairan cepat.
Melalui skema tersebut, negara-negara disebut bisa mengakses dana sekitar US$20 miliar hingga US$25 miliar.
Ajay juga menyebut Bank Dunia dapat mengalihkan sebagian portofolionya, sehingga total dukungan bisa mencapai 60 miliar dolar AS dalam enam bulan. Dalam jangka lebih panjang, nilainya bahkan berpotensi meningkat hingga sekitar 100 miliar dolar AS.
Di sisi lain, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva memperkirakan sekitar belasan negara akan mencari bantuan jangka pendek senilai US$20 miliar hingga US$50 miliar ke pihaknya.
Namun, menurut tiga sumber Reuters yang mengetahui persoalan tersbut, hingga kini baru sedikit permintaan yang tercatat mengajukan ke IMF.
"Negara-negara jelas masih dalam mode wait and see," kata salah satu sumber yang enggan disebut namanya.
Direktur Global Development Policy Center di Boston University Kevin Gallagher menilai banyak negara lebih memilih mencari pendanaan ke Bank Dunia dibanding dengan IMF.
Menurut dia, program IMF umumnya mensyaratkan kebijakan penghematan fiskal yang berisiko memperparah gejolak sosial, seperti yang terjadi di Kenya.
(dhz/ins)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
1

















































