Jakarta, CNN Indonesia --
Ratusan wanita dan anak-anak yang diculik oleh kelompok teroris Boko Haram di wilayah timur laut Nigeria akhirnya berhasil dibebaskan.
Operasi penyelamatan massal ini menjadi titik balik penting dalam krisis penyanderaan di Nigeria yang sempat mencuat di awal tahun ini.
Presiden Aliansi Pemuda Borno Selatan (BOSYA), Samaila Kaigama, menyatakan bahwa pihaknya telah memastikan pembebasan seluruh 416 warga sipil asal Ngoshe yang terdiri dari wanita dan anak-anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir AFP, anggota parlemen setempat, Senator Mohammed Ali Ndume, turut mengonfirmasi pembebasan massal korban penculikan Boko Haram tersebut.
Meskipun laporan awal sempat simpang siur, pihak militer Nigeria menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari "operasi penyelamatan berbasis intelijen".
Pihak militer mengungkapkan para sandera selama ini ditahan oleh militan Boko Haram dalam kondisi yang sangat memprihatinkan di sepanjang poros Ngoshe-sebuah wilayah perbukitan terisolasi yang berjarak kurang dari 10 kilometer dari perbatasan Kamerun.
Dalam taktiknya, militer tidak langsung melancarkan serangan senjata, melainkan menggunakan strategi perang urat syaraf. Pasukan elite mengumpulkan informasi intelijen dan meluncurkan "operasi psikologis" terlebih dahulu untuk menanamkan rasa saling tidak percaya di antara sesama faksi pemberontak, sebelum akhirnya masuk ke fase penyerbuan fisik.
Kendati operasi berjalan sukses dengan menyelamatkan sekitar 360 hingga 416 orang, duka tetap menyelimuti akhir dari misi ini.
"Sangat menyedihkan, dua bayi dilaporkan meninggal dunia akibat kelelahan ekstrem setelah menjalani masa penawanan yang berkepanjangan dan dipaksa melewati medan geografis yang sangat berat," ungkap Daniel Bwala, juru bicara Presiden Nigeria Bola Tinubu, melalui pernyataan di media sosial.
Sebelum pembebasan ini terjadi, para milisi Boko Haram sempat menuntut uang tebusan hingga jutaan Naira (mata uang Nigeria) untuk pembebasan warga Ngoshe.
Pemerintah Nigeria sendiri secara konsisten membantah telah membayar uang tebusan kepada kelompok teroris. Namun, para analis keamanan internasional menilai pembayaran di bawah meja oleh otoritas maupun keluarga korban merupakan praktik yang sangat lumrah terjadi di lapangan.
Aksi penculikan demi uang tebusan telah lama menjadi ceruk bisnis dan taktik utama bagi kelompok teroris, geng kriminal "bandit", hingga kelompok separatis di Nigeria dalam mengepung kedaulatan negara.
Berdasarkan laporan lembaga konsultan SBM Intelligence, krisis penculikan di Nigeria tercatat berhasil meraup perputaran uang tebusan hingga US$1,66 juta atau sekitar Rp30 miliar hanya dalam periode satu tahun terakhir.
Sejak meletus pada 2009 silam, pemberontakan Boko Haram tercatat telah menewaskan puluhan ribu nyawa dan memaksa jutaan warga Nigeria mengungsi dari tanah kelahiran mereka.
(wiw)
Add
as a preferred source on Google

6 hours ago
2
















































