CNN Indonesia
Selasa, 10 Mar 2026 02:00 WIB
Ilustrasi. Sebuah penelitian menemukan, kesepian bisa jadi pemicu demensia. (iStock/JosuOzkaritz)
Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah penelitian meta-analisis menemukan, kesepian bisa meningkatkan risiko demensia hingga 31 persen. Jika merasa kesepian, ini pertanda Anda harus mencari lebih banyak teman.
Meta-analisis ini dipublikasikan pada 2024 di jurnal National Mental Health. Penelitian dilakukan oleh sejumlah akademisi di Florida State University College of Medicine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Biasanya faktor-faktor seperti kurang tidur, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, hingga diabetes, disebut dapat meningkatkan risiko demensia.
Namun bagaimana cerita kesepian bisa jadi faktor yang turut menentukan? Ini dia penjelasan lebih lanjut mengenai penelitian ini.
Hasil studi tentang kaitan kesepian dan demensia
Karena merupakan meta analisis, penelitian ini meninjau berbagai studi yang sudah dilakukan sebelumnya terkait topik kesepian dan demensia. Namun para peneliti juga fokus pada peninjauan studi jangka panjang yang sedang berlangsung tentang kesepian dan kemampuan kognisi dari waktu ke waktu.
Adapun sejumlah studi yang lolos untuk meta-analisis ini, membahas hubungan antara kesepian dan demensia secara keseluruhan, serta risiko untuk dua jenis demensia tertentu, yakni Alzheimer dan demensia vaskular.
Para peneliti juga memeriksa hubungan antara kesepian dan gangguan kognitif yang bukan demensia. Hingga akhirnya, ada 21 studi yang disertakan dengan total lebih dari 600.000 peserta penelitian.
Terkait hasil studi, Martina Luchetti sebagai penulis utama menyatakan, demensia merupakan spektrum. Artinya, ada berbagai tingkat dan jenis demensia dan perubahan neuropatologis di otak dimulai beberapa dekade sebelum gejala awal muncul.
"Hasil ini tidak mengejutkan, mengingat makin banyak bukti yang menghubungkan kesepian dengan kesehatan yang buruk," kata Luchetti, seperti dikutip Eating Well.
Menurutnya, hubungan antara kesepian dengan berbagai gejala kognitif di seluruh spektrum ini penting untuk dipelajari terus.
"Kesepian, ketidakpuasan dengan hubungan sosial, dapat memengaruhi bagaimana Anda berfungsi secara kognitif dan dalam kehidupan sehari-hari," kata Luchetti lagi.
Selain itu, penting juga untuk memahami apa itu kesepian. Konsep ini tidak sama dengan kesendirian. Ada masa-masa orang lebih menikmati waktu sendirian mereka dan tidak merasa kesepian.
Namun ada pula situasi yang membuat seseorang merasa sendirian meski berada di rumah atau ruangan yang penuh dengan orang.
Jadi, kesepian di sini didefinisikan sebagai perasaan tidak memiliki hubungan yang bermakna, dekat, atau rasa memiliki. Adapun rasa memiliki merupakan kebutuhan dasar manusia.
Menurut hasil penelitian, ada faktor risiko tertentu yang menyebabkan kesepian. Mulai dari masalah penglihatan, pendengaran, mobilitas, kurangnya transportasi, hingga hidup sendirian.
Selain itu, kematian orang yang dicintai, pensiun, merawat keluarga yang sedang sakit, serta kendala bahasa juga bisa jadi faktor risiko.
Ketika kesepian sudah melanda, efeknya bisa ke mana-mana. Seseorang bisa merasa makin terisolasi, timbul gejala depresi, hingga muncul perilaku tak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik. Semua hal ini berkaitan erat dengan penurunan kognitif.
Penelitian ini pun menyimpulkan, kesepian bisa meningkatkan risiko demensia hingga sebesar 31 persen.
Lalu, bagaimana cara mencegah kesepian?
Cobalah untuk memelihara hubungan yang kuat dan sehat. Jika Anda merasa belum mendapatkan hubungan itu, carilah cara untuk menjalin koneksi dengan orang-orang di sekitar.
Namun jika Anda berada di posisi sebaliknya, yakni Anda tidak kesepian tetapi mengenal seseorang yang mengalaminya, hubungi mereka secara teratur.
Meski sedang sibuk, cobalah untuk meluangkan waktu untuk mengobrol sebentar, baik itu melalui telepon, pesan teks, atau kunjungan langsung. Tindakan Anda mungkin bisa jadi motivasi agar mereka keluar dari perasaan terisolasi.
(rti)

4 hours ago
2

















































