Coba-coba Pakai Kebaya dalam Sepekan, Ternyata Ini yang Terjadi

3 hours ago 2

SOCIAL EXPERIMENT

Elise Dwi Ratnasari | CNN Indonesia

Rabu, 22 Apr 2026 17:45 WIB

Saya mencoba mengenakan kebaya selama sepekan di keseharian dan inilah yang terjadi. Bagaimana jika kebaya dikenakan dalam keseharian? Simak cerita lengkap eksperimen sosial CNNIndonesia.com. (Arsip Pribadi)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Hari Kartini jadi momennya orang mengenakan kebaya. Namun bagaimana jika kebaya dikenakan dalam aktivitas sehari-hari? Saya mencoba memakai kebaya selama sepekan di keseharian dan inilah yang terjadi.

Selama beberapa tahun terakhir, saya menemukan sejumlah komunitas dan influencer yang menggalakkan kebaya dan kain sebagai busana harian. Tak perlu menunggu special occasion untuk mengenakan kebaya kok!

Akan tetapi, saya menemukan orang masih melihat kebaya sebagai busana yang dikenakan di momen istimewa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selama sepekan saya mengeksekusi sebuah eksperimen sosial untuk melihat bagaimana respons orang saat menemukan ada yang mengenakan kebaya di luar acara khusus. Saya mencoba memadu padan kebaya dengan obi, angkin, sinjang (kain batik panjang), dan rok lilit.

Pilihan siluet kebaya terdapat kebaya lawasan atau sering disebut kebaya nenek, kebaya kutu baru, dan kebaya janggan.

Look dengan kebaya ini dikenakan seminggu penuh untuk berbagai aktivitas mulai dari bekerja, jalan-jalan, dan nongkrong dengan teman. Pun kebaya menemani dalam mobilitas menggunakan transportasi umum seperti, ojek daring, bus TransJakarta, dan KRL Commuter Line.

Dua pertanyaan "Mau ke mana?" atau "Ada apa?" kerap saya dengar di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kantor.

Anggapannya, saya akan menghadiri acara tertentu sehingga ada kebutuhan untuk dress up dengan kebaya. Di kantor, teman-teman mengira saya ada syuting untuk keperluan program video.

Saya agak kaget ketika ada pengunjung kafe tempat saya numpang kerja mengira saya hari itu ada sembahyang di pura. Hari itu saya memang mengadopsi gaya berkebaya khas Bali dengan lilitan obi.

"Teman kami tadi izin tidak bisa Zoom meeting karena ada sembahyang di Besakih. Kirain sembahyang juga," ujarnya.

Sementara itu, tak sedikit yang menatap cukup lama bahkan ada yang sampai melontarkan tanya atau komentar.

"Duh ribet ya," kata seorang pengemudi ojek daring.

"Adat mana neng?" tanya seorang pria paruh baya saat saya jalan-jalan di kawasan Glodok, Jakarta Barat.

"Jadi Jeng Yah nih" komentar teman-teman kantor ketika saya mengenakan kebaya janggan.

[Gambas:Instagram]

Penyempitan makna dan fungsi

Menanggapi temuan saya, dosen Program Studi Pendidikan Tata Busana Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Suciati mengatakan berkebaya atau berkain berkebaya telah mengalami penyempitan makna dan fungsi.

Berkebaya dalam keseharian alias di luar acara khusus pun dilihat sebagai sesuatu yang tak biasa.

"Pengalaman seminggu itu sebagai satu kejadian, kondisi [bahwa] terjadi penyempitan makna, fungsi. Seolah-olah berkebaya itu, satu look tampilan seperti sekarang itu seperti jimat, maknanya sakral. [Maka] ditanya mau ke mana. [Dianggap sebagai] special costume ke special occasion," kata Suciati saat dihubungi pada Selasa (21/4).

Kenapa bisa demikian?

Era modernitas membawa perubahan di berbagai aspek termasuk gaya busana masyarakat. Perempuan, kata Suciati, sebelumnya berkain berkebaya untuk pakaian harian, begitu pula dengan perempuan dari kaum priyayi.

Kaum priyayi mengenakan kebaya dari bahan beludru dengan hiasan dekoratif, sedangkan orang kebanyakan kebayanya lebih sederhana cenderung polos.

Selain itu, melilitkan kain sebagai bawahan kebaya dilihat sebagai sesuatu yang ribet dan tidak praktis sehingga perlahan kebiasaan ini ditinggalkan. Karena dicap ribet, berkain berkebaya pun dianggap sebagai kostum untuk keperluan khusus.

Sebenarnya, berkain berkebaya sebelum era modernitas bukan hanya sekadar menutup tubuh, melainkan juga menunjukkan identitas dan keunikan diri.

"Orang kita dulu melilitkan kain bukan tidak tahu kepraktisan tapi karena makna. Memulir kain di badan itu mengasah budi pekerti, ada detail kain yang teratur, ada citarasa pribadi yang enggak sama dengan yang lain," terang Suciati.

Dari kegiatan memulir atau draping, wrapping kain, orang diasah kecerdasan emosional sekaligus ketrampilannya mematut diri.

Kemudian kebaya biasanya dibuat sendiri mengikuti fungsi serta peran individu di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sentuhan personal baik pada kebaya maupun pada kain bawahan membuat berkain berkebaya dahulu menunjukkan identitas seseorang yang beda dengan yang lain.

Sementara kini, keunikan personal itu mulai tak terasa karena mode dibuat secara massal atau dikenal dengan tren.

"Dari fungsi sakral jadi enggak sakral lagi, yang penting berfungsi, mendukung aktivitas. Lalu ujung-ujungnya mengikis kekhasan secara bangsa secara personal karena industrialisasi jadi orang berbusana akhirnya sama. Orang pakai kemeja, celana panjang yang dibuat massal, tidak lagi dibuat di lingkungan kriya keluarga. Penyeragaman yang kita kenal sebagai tren mode," ujar Suciati.

Kenapa sih musti pakai kebaya?

Sejumlah perempuan mengenakan kebaya di kawasan Dukuh Atas, Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019. Kehadiran mereka untuk mengkampanyekan gerakan mengenakan kebaya di hari selasa sebagai upaya mengembalikan jati diri  dan idemtitas Indonesia. CNNIndonesia/Safir MakkiIlustrasi. Selain sebagai identitas diri, mengenakan kebaya juga bisa jadi sarana promosi budaya terutama ketika sedang bepergian ke luar negeri. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Pakai kebaya untuk keseharian, kenapa tidak? Rahmi Hidayati, pendiri komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), mengaku dirinya konsisten setiap hari sejak 2014 silam. Dia bahkan pernah menaklukkan Gunung Rinjani dalam balutan kain dan kebaya.

Rahmi pun mengajak untuk menjadikan kebaya sebagai salah satu pilihan busana harian. Saat mengenakan kebaya, kita dapat mengusung aspek identitas diri, aspek ekonomi, dan aspek promosi budaya.

Di aspek identitas, mengenakan kebaya dapat menunjukkan pada dunia bahwa kita orang Indonesia. Kebaya suatu saat bisa seperti kimono yang langsung dikenali sebagai busana tradisional khas Jepang.

"Kemudian kebaya ini dipadukan dengan kain, wastra bisa batik, bisa tenun. Ini ada aspek ekonomi. Kita mendukung pembatik, penenun, ibu-ibu dengan keahlian jahit. Makin banyak yang pakai kebaya, batik, tenun, makin banyak yang beli," kata Rahmi dalam wawancara terpisah.

Selain itu, ada aspek promosi budaya. Menurut Rahmi, mengunggah konten berkebaya bisa jadi sarana promosi. Kita pun bisa mengenakan kebaya saat bertandang ke luar negeri.

Pengalaman Rahmi, kebaya selalu bisa mengundang tanya dan diskusi sehingga bisa jadi momen perkenalan kebaya dan wastra Nusantara.

Setelah sepekan berkebaya

Bagaimana jika kebaya dikenakan sebagai busana harian tanpa dikhususkan untuk acara tertentu? CNNIndonesia.com mengeksekusi eksperimen kecil untuk melihat respons masyarakat ketika menemukan kebaya dikenakan dalam keseharian.Setelah sepekan berkebaya untuk berbagai aktivitas, saya menemukan bahwa berkebaya sekaligus berkain memang mengajak diri untuk lebih mindful dalam bersikap dan melangkah. (Arsip Pribadi)

Sebenarnya kebaya dan kain bukan sesuatu yang baru buat saya. Meski tidak sering, saya memasukkan dua fashion item ini dalam pilihan busana baik dalam keseharian maupun momen khusus.

Begitu mencoba konsisten berkebaya selama sepekan, ada beberapa hal yang saya rasakan.

Padu padan kebaya rasanya cukup menantang. Tabrak motif bukan sesuatu yang aneh tapi bagaimana caranya 'tabrakan' ini tidak memicu polusi visual. Saya sampai berdiskusi dengan seorang teman guna menghindari tampilan berkebaya yang 'too much'.

Kemudian, pengetahuan saya soal teknik lilitan kain tidak banyak. Pun saya cenderung menyukai model berkain klasik. Konsekuensinya, saya cukup kesulitan mengendarai motor sehingga beberapa kali musti naik ojek daring untuk mobilitas.

Pergerakan saat mengenakan kebaya terutama dengan bawahan sinjang memang terbatas. Saya yang terbiasa melangkah lebar dan jalan cepat 'dipaksa' untuk melambat. Namun justru saya seperti diajak untuk lebih mindful dalam melangkah dan lebih memperhatikan sekitar.

Selain itu, kebaya juga seolah menuntut penggunanya untuk lebih menjaga sikap. Harus diakui, ada rasa yang berbeda ketika berkebaya yang tidak saya temukan pada busana lain.

Saya merasa tidak harus menanggapi sinis orang yang berkomentar atau mempertanyakan keputusan saya berkebaya. Cukup tersenyum dan sedikit mengangguk.

(els/asr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi