Di Bawah Langit Ramadan, Mengapa Dosa Masih Berjalan?

1 hour ago 1
Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Setiap tahun, bulan itu datang dengan pengumuman langit yang sama. Inilah bulan suci, bulan ampunan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an. Namun pertanyaan mendasar tak pernah benar-benar pergi.  Jika dosa masih berkeliaran, jika dusta tetap diperdagangkan, jika amarah tetap diumbar di ruang-ruang publik, lalu apa sesungguhnya yang membedakan Ramadan dari bulan-bulan lain?

Apakah kesuciannya gugur karena perilaku kita yang belum juga suci?

Ramadan bukanlah bulan yang otomatis mengubah manusia. Ia bukan saklar gaib yang seketika memadamkan maksiat. Ramadan adalah tawaran, bukan paksaan. Ia adalah undangan untuk naik, bukan jaminan bahwa semua orang akan terangkat.

Yang membedakan Ramadan pertama-tama bukan statistik moral umat, melainkan status spiritual waktunya. Dalam teologi Islam, waktu tidak netral. Ada waktu yang dilipatgandakan nilainya. Ada ruang yang diperluas keberkahannya. Ramadan adalah musim tanam ruhani. Pahala dilipatgandakan, pintu ampunan dibuka, dan—dalam bahasa hadis—setan-setan dibelenggu. Tetapi dibelenggu bukan berarti lenyap sama sekali; nafsu kita tetap hidup dan kehendak bebas tetap bekerja.

Di sinilah letak pembeda yang sesungguhnya: Ramadan menggeser atmosfer batin. Ia menciptakan tekanan spiritual yang lebih besar agar manusia sadar akan dirinya. Lapar bukan sekadar menahan makan; ia adalah latihan meredam ego. Haus bukan hanya kekurangan cairan; ia adalah pengingat bahwa kita makhluk yang rapuh. Puasa adalah teknologi kesadaran.

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi