CNN Indonesia
Senin, 04 Mei 2026 17:00 WIB
Ilustrasi. Hati-hati, bisa jadi pertemananmu kurang sehat karena dia adalah teman palsu. Simak ciri-ciri teman palsu sebagai berikut. (Getty Images/iStockphoto/AntonioGuillem)
Jakarta, CNN Indonesia --
Tidak semua teman yang terlihat dekat benar-benar tulus. Sebagian justru menunjukkan ciri-ciri teman palsu yang kerap luput disadari. Berikut ciri-ciri teman palsu yang perlu kamu waspadai.
Berhubungan dengan teman palsu biasanya terasa biasa dan tidak merugikan. Namun lama-kelamaan, ada dalam hal-hal kecil yang dianggap biasa, tetapi bisa memengaruhi cara kamu memandang diri sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengalaman dikelilingi teman yang tidak tulus, terutama sejak masa remaja, sering kali membentuk rasa tidak percaya, kebiasaan merendahkan diri, hingga kesulitan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
Ciri-ciri teman palsu
Pertemanan seharusnya menjadi ruang aman untuk bertumbuh. Namun, ketika yang terjadi justru sebaliknya, dampaknya bisa bertahan lama.
Agar terhindar dari teman palsu, kenali ciri-cirinya sebagai berikut.
1. Mudah mengkhianati kepercayaan
Melansir dari Your Tango, salah satu tanda paling jelas dari teman yang tidak tulus adalah mudahnya mereka mengkhianati kepercayaan. Hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi bisa menjadi bahan cerita ke orang lain, bahkan dijadikan bahan candaan.
Melansir dari berbagai sumber, pengalaman seperti ini sering membuat seseorang tumbuh dengan rasa waspada berlebihan. Akibatnya, membuka diri dalam hubungan baru menjadi jauh lebih sulit karena ada ketakutan yang belum benar-benar pulih.
2. Meremehkan pencapaian
Teman palsu kerap merespons pencapaian dengan sikap meremehkan. Ucapan selamat mungkin tetap ada, tetapi terasa kosong atau disertai komentar yang menjatuhkan.
Jika dibiarkan, hal ini bisa membentuk kebiasaan untuk mengecilkan diri sendiri. Seseorang jadi tidak terbiasa merayakan keberhasilan, bahkan merasa tidak pantas untuk bangga atas apa yang telah dicapai.
3. Tidak menghargai
Candaan yang melewati batas, komentar yang menyakitkan, hingga sikap yang tidak mempertimbangkan perasaan adalah bentuk ketidakpedulian yang sering muncul dalam pertemanan tidak sehat.
Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menghilangkan kepercayaan diri. Seseorang menjadi terbiasa diperlakukan tidak adil dan kesulitan menentukan standar hubungan yang layak.
4. Memberi tekanan
Teman palsu sering kali mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal di luar kenyamanan demi diterima dalam kelompok. Tekanan ini bisa terlihat halus, tetapi berdampak besar.
Akibatnya, seseorang tumbuh dengan kecenderungan menjadi people pleaser atau lebih mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri.
Psikolog klinis, Debbie Sorensen menyebut orang yang selalu berusaha menyenangkan orang lain cenderung mengalami kelelahan.
5. Menyindir berkedok candaan
Tidak semua candaan benar-benar lucu. Biasanya sindiran yang menyakitkan sering dibungkus sebagai candaan agar terdengar ringan.
Padahal, pola ini bisa mengikis rasa percaya diri secara perlahan. Seseorang mulai mempertanyakan dirinya sendiri, bahkan mempercayai hal-hal negatif yang sebenarnya tidak benar.
6. Dipenuhi komentar negatif
Lingkungan pertemanan yang sehat seharusnya memberi energi positif. Sebaliknya, teman palsu cenderung melakukan kritik, keluhan, atau komentar negatif secara terus-menerus.
Hal-hal seperti ini dapat memengaruhi cara berpikir. Tanpa disadari, seseorang menjadi lebih mudah pesimis dan sulit melihat sisi baik dari berbagai situasi.
7. Tidak dapat diandalkan
Mengutip dari Verywell Mind, psikolog klinis, Aimee Daramus menjelaskan teman palsu cenderung tidak dapat diandalkan dan jarang menepati janji mereka.
Mereka biasanya membuat rencana, tapi kemudian membatalkannya secara sepihak. Selain itu, mereka juga bisa berjanji untuk membantu namun setelahnya menghilang di menit terakhir.
8. Sengaja mengucilkan
Ditinggalkan dari percakapan, tidak diajak dalam kegiatan, atau merasa tidak dianggap ada adalah bentuk pengucilan yang sering dialami dalam pertemanan tidak sehat.
Rasa tidak dilibatkan ini bisa memicu kesepian, bahkan ketika berada di tengah obrolan. Dampaknya dapat terbawa hingga dewasa, termasuk rasa takut ditinggalkan.
9. Tidak pernah membuat merasa diterima
Ilustrasi. Ciri-ciri teman palsu salah satunya cuma fokus pada hal-hal yang sifatnya dangkal. Hal ini membuat individu sulit jadi diri sendiri. (pexels.com/ELEVATE)
Teman palsu cenderung fokus pada hal-hal dangkal seperti penampilan, gaya hidup, atau standar tertentu tanpa benar-benar menerima seseorang apa adanya.
Akibatnya, seseorang tumbuh dengan kebingungan identitas. Ada keinginan untuk menjadi diri sendiri, tetapi juga rasa takut tidak diterima jika melakukannya.
Sekitar 70 persen orang diketahui pernah memalsukan kebahagiaan mereka dan menderita sindrom impostor dalam waktu yang sama.
10. Memanfaatkan kebaikan
Kebaikan sering dianggap sebagai kelemahan dalam pertemanan yang tidak sehat. Teman palsu cenderung datang hanya saat membutuhkan, tanpa memberikan timbal balik yang setara.
Lama-kelamaan, kondisi ini bisa membuat seseorang merasa lelah secara emosional. Hubungan terasa berat sebelah dan tidak lagi memberikan kenyamanan.
11. Selalu membandingkan dan bersaing
Alih-alih saling mendukung, teman palsu sering menjadikan hubungan sebagai ajang kompetisi. Setiap pencapaian dibandingkan, bahkan direspons dengan sikap ingin lebih unggul.
Dampaknya, seseorang bisa merasa tidak pernah cukup. Bahkan ketika sudah berada di lingkungan yang lebih sehat, rasa ragu untuk berbagi kebahagiaan tetap muncul.
Mengenali ciri-ciri teman palsu bukan berarti harus menyalahkan masa lalu. Justru, ini bisa menjadi langkah awal untuk memahami diri sendiri dan membangun hubungan yang lebih sehat ke depan.
Pertemanan yang baik bukan soal seberapa lama hubungan itu terjalin, tetapi seberapa aman dan jujur seseorang bisa menjadi dirinya sendiri di dalamnya.
(nga/els)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































