Ilustrasi mudik lebaran dengan bermotor.
FAJAR.CO.ID, JAKARTA -- Usulan DPR agar mudik Lebaran 2026 diatur dengan larangan penggunaan sepeda motor menuai tanggapan beragam.
Salah satunya datang dari pegiat politik, ekonomi, dan sosial, Arif Wicaksono.
Soroti Realitas Ekonomi Rakyat
Arif menegaskan, wacana tersebut perlu dilihat dari realitas kemampuan ekonomi masyarakat.
Baginya, keinginan rakyat sebenarnya sederhana, mudik dengan nyaman dan aman. Namun, kondisi finansial sering kali menjadi faktor penentu pilihan transportasi.
“Rakyat sih pinginnya mudik pakai pesawat, kereta api bahkan kalau bisa pakai jet pribadi,” ujar Arif kepada fajar.co.id, Jumat (27/2/2026).
Motor Jadi Pilihan karena Lebih Irit
Ia kemudian menyinggung fakta bahwa banyak masyarakat memilih sepeda motor karena alasan keterjangkauan biaya.
“Tapi sayangnya rakyat cuma mampu pakai motor Pak, lebih irit dan sekali lagi mampunya cuma pakai motor,” lanjutnya.
Kalau Dilarang, Nggak Boleh Mudik?
Arif pun mempertanyakan jika larangan itu benar-benar diberlakukan tanpa solusi konkret bagi masyarakat kecil.
“Gimana Pak? Nggak boleh mudik?,” tanya dia.
Wacana pembatasan atau pelarangan mudik menggunakan sepeda motor memang kerap muncul setiap musim Lebaran dengan alasan keselamatan.
Hanya saja di sisi lain, bagi sebagian masyarakat, motor masih menjadi moda transportasi paling realistis untuk pulang kampung.
Sebelumnya, wacana pelarangan mudik menggunakan sepeda motor mencuat dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI bersama Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi.
Usulan itu disampaikan Wakil Ketua Komisi V, Syaiful Huda, dan langsung memantik respons beragam, termasuk dari internal DPR sendiri.

















































