Jakarta -
Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir tengah dilanda badai pasir besar. Hal ini mengakibatkan langit berubah menjadi oranye pekat dan tentunya sangat mengganggu aktivitas warga.
Tentu saja kejadian ini semakin memperburuk kondisi warga Gaza di tengah konflik dan genosida yang dilakukan Israel. Apalagi, banyak warga yang harus tinggal di tenda darurat akibat rumah mereka telah hancur dibom oleh tentara IDF.
Peristiwa ini juga berisiko memicu masalah kesehatan, akibat debu tebal yang dibawa oleh angin kencang. Masyarakat pun dihimbau untuk tetap berada di dalam rumah atau tempat perlindungan agar mengurangi risiko akibat badai pasir ini.
Apa sebenarnya badai pasir? Dan mengapa peristiwa ini makin sering terjadi?
Dilansir dari DetikTravel, yang mengutip DW News, badai pasir terjadi ketika angin kencang mengangkat pasir dan debu dari permukaan tanah yang kering ke atmosfer. Partikel-partikel kecil ini kemudian terbawa angin dan membentuk awan debu besar yang dapat bergerak sangat jauh.
Fenomena ini sering terjadi di wilayah kering dan semi-kering seperti Afrika Utara, Timur Tengah, serta sebagian Asia. Badai pasir tidak hanya mengurangi jarak pandang, tetapi juga dapat mengganggu transportasi, merusak tanaman, serta membawa partikel debu yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Badai pasir makin sering terjadi
Para ilmuwan mengatakan frekuensi badai pasir meningkat di sejumlah wilayah. Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan iklim yang membuat banyak wilayah menjadi lebih kering.
Tanah yang semakin kering dan hilangnya vegetasi membuat lebih banyak debu dan pasir yang bisa terangkat oleh angin. Proses ini juga diperparah oleh desertifikasi atau penggurunan yang terjadi di banyak wilayah.
Berdasarkan laporan organisasi internasional, aktivitas seperti degradasi lahan dan perubahan penggunaan tanah juga dapat memperparah peristiwa ini.
Dampaknya bagi manusia
Badai pasir dapat membawa miliaran partikel debu ke udara yang menyebar hingga ribuan kilometer dari sumbernya dan memengaruhi kualitas udara di berbagai wilayah. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO juga memperingatkan bahwa badai debu dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari iritasi mata hingga penyakit pernapasan.
Sementara di Gaza, dampaknya dapat lebih parah karena banyak warga yang tinggal di tenda pengungsian. Tenda-tenda mudah tertiup angin dan udara penuh debu meningkatkan risiko penyakit pernapasan.
(kpr/kpr)
Loading ...

19 hours ago
2

















































