Gultik Blok M, Kuliner Legendaris Penenang Perut Kala Dompet Tipis

6 hours ago 1

Rhea Tritami | CNN Indonesia

Jumat, 29 Mei 2026 16:00 WIB

Suasana dagangan para penjual gultik di sepanjang Jalan Mahakam, Blok M, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/5). Ade Heri (35), salah satu penjual gultik di kawasan Blok M sedang menyajikan hidangan andalannya pada Kamis (21/5). (CNN Indonesia/Rhea Febriani)

Jakarta, CNN Indonesia --

Segala macam kuliner ada Blok M. Hampir di tiap sudut dan ruas jalan, pengunjung bisa menemukan beragam rasa yang bisa memanjakan lidah dengan cara berbeda.

Namun ketika mampir di tikungan di Jalan Mahakam hingga ke Taman Ayodya (dahulu Taman Barito), ada sesuatu yang unik. Kamu bisa menemukan jajaran penjual gultik, alias gulai tikungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Para pedagang kuliner yang sudah jadi ciri khas Blok M sejak 1980-an ini punya karakteristik serupa. Jajaran gerobak pikul dengan panci besar dan tumpukan piring, dilindungi oleh payung besar. Di depannya terdapat sejumlah meja kecil yang dikelilingi dua hingga empat kursi plastik.

Jadi andalan banyak pengunjung Blok M sejak bertahun-tahun lamanya, mari kita icip-icip rasanya. Apakah pas di indra pengecap atau di dompet?

Sejak 1980-an

Gultik sudah dikenal sebagai kuliner malam di Blok M. Para penjualnya baru mulai bermunculan sore hari untuk menata dagangan, kursi, dan meja.

Meski lebih banyak yang berjualan gultik di malam hari, tetapi ada saja yang sudah mulai berjualan sejak pukul 16.00 WIB. Salah satunya Gultik Pak Kumis yang ketika itu sedang dikelola oleh tiga pegawai.

Ade Heri (35), salah satu pegawai Gultik Pak Kumis yang berjualan tepat di perempatan Jalan Mahakam-Bulungan, dengan senang hati menjelaskan serba-serbi tentang gultik. Dimulai dari Gultik Pak Kumis sendiri yang sudah berjualan sejak 1980-an.

"Kan, blok yang dulu terkenal keras, tuh, Blok M. Banyak yang tawuran, banyak yang ini, banyak yang itu. Akhirnya bisa berjualan di sini, berjuang, lah intinya," tutur Ade bercerita pada CNNIndonesia.com sambil menyiapkan sajian gultik, Kamis (21/5) sore.

Singkat cerita, berkat berkumpulnya para pedagang gultik di Blok M, area mereka berjualan pun dijadikan pusat kuliner gultik. Sudah sejak lama mereka mendapat izin berjualan dari kelurahan setempat.

Mengutip berbagai sumber, kuliner gultik sendiri bermula dari dari perantauan asal Sukoharjo, Jawa Tengah yang merintis usaha di sini. Mereka membawa resep gulai khas Solo namun dengan sedikit modifikasi.

Istilah 'gulai tikungan' atau gultik sendiri sebenarnya merujuk pada lokasi berjualan yang selalu berada tepat di tikungan. Istilah ini mulai populer sejak tahun 1990-an.

Jika dibandingkan dengan gulai pada umumnya, menurut Ade, gultik punya rasa yang khas.

"Bumbu-bumbunya, gultik itu lebih komplet dari mulai lengkuas, segala macamnya, sudah ada di situ. Kayu manis juga," ujar Ade.

Icip-icip gultik, bagaimana rasanya?

Suasana dagangan para penjual gultik di sepanjang Jalan Mahakam, Blok M, Jakarta Selatan, pada Kamis (21/5) malam.Mencicipi kuliner gultik di Blok M, Jakarta Selatan. Bagaimana rasanya dan apa yang membuatnya dibeli terus oleh para pengunjung Blok M? (CNN Indonesia/Rhea Febriani)

Dijual dengan harga Rp10 ribu, dalam satu porsi gultik sudah termasuk nasi, bawang goreng, daging, dan tetelan yang disajikan dengan siraman kuah gulai yang agak encer, lalu terakhir ditambahkan kerupuk.

Saat dihidangkan, di meja juga disediakan kondimen pelengkap, seperti kecap dan sambal cair. Ada pula satu piring berisi aneka sate, mulai dari sate telur puyuh, usus, ati, hingga ampela. Setiap tusuk dihargai Rp5.000.

Adapun minuman yang ditawarkan pun sederhana, yakni minuman teh botolan dan air mineral kemasan dengan harga masing-masing Rp5.000.

Saat mencicipi kuah gultik, aromanya memang tidak menyengat. Namun ketika menyentuh lidah, terasa perpaduan rasa manis tipis serta kehangatan dan rasa menusuk dari rempah lainnya.

Sesuai resep gultik pada umumnya, rempah-rempah yang digunakan, antara lain lengkuas, jahe, serai, kayu manis, gula merah, hingga lada.

Ketika mencicipi dagingnya, teksturnya terasa empuk dan mudah digigit. Selain karena direbus cukup lama, daging memang disajikan dengan irisan tipis.

Adapun kerupuk bisa dimakan belakangan setelah makan sesuap campuran nasi dan daging. Namun, kamu juga bisa merendam kerupuk terlebih dahulu di kuah gulai, kemudian dimakan bersamaan dengan nasi dan daging.

Lalu bagaimana dengan kehadiran aneka sate? Tampaknya kehadirannya bukan untuk melengkapi rasa gultik, melainkan porsinya.

Selain harganya yang murah, gultik juga dikenal memiliki porsi kecil. Kehadiran sate bisa menjadi 'pengganjal' agar perut tetap terasa kenyang.

Soal kuah gultik, memang terasa lebih encer dibanding gulai pada umumnya. Namun bagi yang ingin mencoba makanan bersantan tetapi tak bikin enek, gultik bisa jadi pilihan.

Baca halaman selanjutnya...

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi