Oleh: Hafid Abbas, Professor Tamu di Asia Center Harvard University, 2006
FAJAR.CO.ID - Di tengah dinamika sosial dan politik yang kerap memecah belah, sebuah pengabdian kemanusiaan yang tulus mampu menjadi fondasi perdamaian dan kohesi sosial. Habib Abubakar bin Hasan Alatas Azzabidi, Mufti Besar Kesultanan Moloku Kieraha di Maluku Utara, menegaskan bahwa dakwah sejati bukan hanya soal kata-kata, melainkan tindakan nyata yang menyentuh mereka yang paling rentan, seperti penderita kusta yang sering terpinggirkan dan mengalami stigma sosial.
"Dakwah harus menyentuh luka paling nyata dalam kehidupan umat manusia," katanya saat ditemui di Maluku Utara.
Transformasi Martabat Melalui Cinta dan Aksi Nyata
Habib Abubakar tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga menyalurkan zakat dan dukungan sosial untuk menghapus rasa malu dan keterasingan yang dialami para penderita kusta. Ia memandang mereka sebagai manusia utuh yang berhak mendapatkan empati dan penghormatan, bukan sekadar objek belas kasihan. Selain itu, distribusi pangan secara berkelanjutan menjadi simbol kepedulian yang tidak mengenal kata kosong, dengan puluhan ton beras dibagikan setiap bulan kepada keluarga kurang mampu.
"Memberi makan yang lapar bukan sekadar program sosial musiman, melainkan komitmen yang selalu terjaga ritmenya," bebernya.
Membangun Stabilitas Sosial dan Harapan Masa Depan
Memberikan pangan bagi yang membutuhkan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menciptakan tembok tak kasatmata yang menahan potensi ketegangan sosial. Kelaparan dan kemiskinan ekstrem dapat memicu konflik, sehingga memastikan kebutuhan pangan terpenuhi adalah langkah penting dalam menjaga stabilitas. Lebih jauh lagi, Habib juga memberikan beasiswa pendidikan bagi anak-anak dari keluarga marginal, membuka peluang mobilitas sosial dan memutus siklus kemiskinan turun-temurun.

















































