Hiroshi Mikitani, Raja E-Commerce Jepang Berharta Rp66,84 T

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Hiroshi Mikitani adalah salah satu orang terkaya di Jepang. Ia merupakan pendiri raksasa e-commerce Jepang, Rakuten.

Berdasarkan data Forbes, Minggu (19/4), kekayaan Mikitani mencapai US$3,9 miliar atau sekitar Rp66,84 triliun (asumsi kurs Rp17.140 per dolar AS).

Dengan kekayaanya itu, Forbes menempatkan Mikitani di peringkat ke-12 orang terkaya di Jepang pada 2025. Mikitani juga duduk di peringkat ke-1.108 konglomerat tertajir di dunia pada 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas bagaimana kisah hidup Mikitani hingga bisa membuatnya sukses menjadi konglomerat ternama di Negeri Sakura?

Dilansir dari berbagai sumber, Hiroshi 'Mickey' Mikitani lahir di Kobe, Prefektur Hyogo, Jepang pada 11 Maret 1965.

Mikitani dibesarkan di lingkungan keluarga berada dan terpelajar. Ayahnya, Ryoichi Mikitani, adalah seorang dosen dan ekonom yang sempat mengajar di Universitas Yale, AS. Ayahnya merupakan salah satu penerima beasiswa pendidikan dari pemerintah AS.

Sementara, ibu Mikitani, Setsuko Mikitani, adalah seorang pekerja swasta di sektor perdagangan yang berasal dari keluarga bangsawan.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, Mikitani melanjutkan kuliah di Hitotsubashi University. Ia mengambil jurusan perdagangan dan lulus pada 1988.

Kemudian, Mikitani mengawali karirnya di dunia kerja dengan menjadi karyawan Industrial Bank of Jepang (IBJ). Saat menjadi pegawai bank, ia sempat melanjutkan studi di Harvard Business School selama 3 tahun pada 1991-1993.

Pada 1996, Mikitani mendirikan Crimson Group, bisnis konsultannya sendiri. Ia merasa terpanggil untuk membangun ekonomi kota kelahirannya, Kobe, setelah ambruk karena gempa pada 1995.

Salah satu bisnis yang menarik perhatiannya adalah lokapasar (marketplace) alias pusat perbelanjaan online. Kala itu, Mikitani melihat langkah serupa yang dilakukan Amazon dan Netscape di AS.

Mikitani bersama dua orang rekannya lalu mendirikan perusahaan e-commerce MDM Inc dengan bermodalkan US$250 ribu pada 7 Februari 1997.

Selang beberapa bulan, MDM Inc meluncurkan marketplace Rakuten Ichiba pada 1 Mei 1997, sebelum berganti nama menjadi Rakuten yang berarti 'optimisme' pada 1999. Awalnya, mal online-nya itu hanya memiliki 13 toko dengan 6 karyawan.

Berkat keahliannya, Mikitani terus mengembangkan Rakuten hingga membuat perusahaan melantai di bursa JASDAQ pada 2000.

Pada 2010, Mikitani kian melebarkan sayap Rakuten ke sejumlah negara dengan mengakuisisi perusahaan e-commerce mulai dari Buy.com di AS, Kobo di Kanada, hingga PriceMinister di Prancis. Perusahaan juga memiliki saham di situ Pinterest dan aplikator transportasi online Lyft.

Dalam mengembangkan Rakuten, Mikitani memadukan etos kerja Jepang dengan budaya inovasi teknologi ala Silicon Valley, AS.

Rakuten group's CEO Hiroshi Mikitani delivers a speech during a Rakuten Mobile press conference in Tokyo on February 25, 2022. (Photo by Charly TRIBALLEAU / AFP)Hiroshi Mikitani adalah salah satu orang terkaya di Jepang. Pria berharta Rp66,84 triliun ini merupakan pendiri raksasa e-commerce Jepang, Rakuten. (Charly TRIBALLEAU / AFP).

Mikitani juga mewajibkan karyawannya untuk menguasai bahasa Inggris lewat program 'englishnization'. Strategi yang cukup berani mengingat Jepang saat itu sangat konservatif.

Bagi Mikitani, bahasa Inggris adalah kemampuan wajib dimiliki oleh karyawan Rakuten, terlebih jika perusahaan ingin melebarkan sayapnya ke kancah global.

Dilansir Harvard Business School (HBS), pada 2013, lebih dari 41 ribu pedagang menjual barangnya di Rakuten. Perusahaan juga mempekerjakan lebih dari 10 ribu orang di 13 negara.

"Saya telah belajar bahwa tidak masalah seberapa besar perusahaan tempat Anda bekerja-yang penting adalah seberapa banyak nilai yang Anda ciptakan sendiri," ujar Mikitani dalam artikel Harvard Business Review (HBR) yang dirilis pada 2013 lalu.

Dalam unggahan akun LinkedIn Mikitani yang dilansir HBR, ia menilai ada tiga kunci menuju kesuksesan. Pertama, percaya pada inspirasi yang muncul. Kedua, tidak masalah jika harus memulai dari hal kecil. Ketiga, terbuka terhadap perubahan jika diperlukan selama perjalanan.

Pada 2020, Rakuten meluncurkan bisnis layanan seluler pertamanya dengan investasi mencapai US$5,5 miliar. Kemudian, pada 2021, Mikitani menjual saham Rakuten senilai US$2,2 miliar ke tiga investor raksasa yakni Japan Post Holdings, Tencent China dan Walmart AS.

"Investasi baru di Rakuten ini menunjukkan ekspektasi tinggi terhadap pertumbuhan dan dampak ekosistem Rakuten dengan layanan seluler sebagai intinya, serta potensi besar untuk kolaborasi lebih lanjut dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dari tiga ekonomi terbesar di dunia," ujar Mikitani dalam salah satu wawancaranya dengan Forbes pada 2021 lalu.

Meski tetap menjadi perusahaan e-commerce terbesar di Jepang neraca keuangan Rakuten negatif selama tujuh tahun terakhir. Dilansir Forbes, total kerugian Rakuten Group tahun lalu mencapai US$1,1 miliar (Rp18,85 triliun) dari pendapatan US$16,1 miliar (Rp275,95 triliun).

Bisnis Olah Raga dan Hiburan

Selain dunia e-commerce, Mikitani juga memiliki minat pada industri olahraga. Ia tercatat sebagai pemiliki klub bisbol profesional Jepang, Tohoku Rakuten Golden Eagles yang berbasis di Sendai, Miyagi, serta klub sepak bola Vissel Kobe yang bermarkas di Kobe.

Tak hanya itu, ia juga mendirikan Kosmos Holding bersama pemain sepakbola Gerard Pique.

Kosmos banyak berinvestasi pada sejumlah bisnis olah raga hingga hiburan, beberapa di antaranya penyelenggara kejuaraan tenis Piala Davis hingga klub sepak bola Spanyol FC Andorra.

Saat ini, Mikitani dan istrinya, Haruko Mikitani, tinggal di Tokyo, Jepang. Kedua memiliki dua orang anak.

[Gambas:Youtube]

(sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi