Kenapa MSCI Lakukan Rebalancing Saham Indonesia?

11 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) baru saja mengumumkan penyesuaian ulang komposisi indeks saham (rebalancing) emiten Indonesia.

Penyesuaian ini dilakukan secara berkala untuk memastikan indeks tetap mencerminkan kondisi pasar terkini.

Dalam proses rebalancing, MSCI dapat memasukkan saham baru, mengeluarkan saham tertentu dan menaikkan atau menurunkan bobot saham dalam indeks.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penilaian MSCI biasanya mempertimbangkan sejumlah faktor seperti kapitalisasi pasar, likuiditas saham, hingga tingkat kepemilikan publik (free float).

Dalam pengumuman hasil peninjauan indeks Mei 2026, MSCI mengeluarkan sejumlah saham Indonesia, yakni enam saham dari MSCI Global Standard Index dan 13 saham dari MSCI Global Small Cap Index.

Dalam MSCI Global Standard Index terbaru, tidak ada satu pun saham Indonesia yang masuk sebagai konstituen anyar.

Lantas, apa yang membuat MSCI mendepak saham-saham tersebut?

Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi, saham-saham tersebut dikeluarkan karena tidak lagi memenuhi kriteria indeks global.

"(Saham) tidak lagi dinilai memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh index provider global, sehingga tentu konsekuensinya ada sebagian saham yang kemudian keluar dari anggota indeks dimaksud dan ada sebagian lainnya yang mengalami penyesuaian bobot maupun penurunan klasifikasi dari kelompok indeks yang ada," ujar Hasan dalam konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (13/5).

Saham-saham tersebut dikeluarkan MSCI di tengah OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) sedang mereformasi pasar modal demi meningkatkan transparansi dan integritas.

Salah satu upaya itu adalah peningkatan porsi free float saham emiten. OJK bersama BEI mendorong penambahan jumlah free float saham-saham tercatat di bursa.

Dalam peraturan sekarang, jumlah minimum kepemilikan free float saham yang tercatat di bursa diwajibkan meningkat menjadi 15 persen dari sebelumnya 7,5 persen.

Menurut Hasan, aturan tersebut diterapkan secara bertahap hingga seluruh emiten memenuhi batas minimal free float 15 persen.

"Ini sedang kita kawal terus karena ada timeline yang terukur yang kita targetkan di setiap tahunnya," ujar Hasan.

Selain itu, OJK bersama BEI juga mulai membuka data kepemilikan saham secara lebih rinci kepada publik sejak Maret 2026.

Kepemilikan saham yang dibuka menjadi di atas satu persen dari sebelumnya minimum lima persen dan ini dapat dilihat secara publik. Mereka juga menampilkan detail tipe investor dan pihak di balik kepemilikan saham tertentu.

Pada April 2026, regulator juga mulai menerbitkan data potensi konsentrasi kepemilikan saham atau high shareholding concentration.

Menurut Hasan, rentetan langkah peningkatan transparansi tersebut akhirnya dimanfaatkan oleh investor dunia dan penyedia indeks global dalam melakukan evaluasi.

"Seluruh peningkatan transparansi dan integritas yang dihadirkan itu terbukti pada akhirnya di-acknowledge dan kemudian digunakan secara baik oleh investor dan juga tentu index provider global," ujar Hasan.

Hasan mengatakan setelah struktur kepemilikan saham dibuka secara lebih detail, MSCI menemukan sejumlah saham yang ternyata tidak lagi memenuhi kriteria free float.

"Terlihat adanya saham-saham yang setelah transparansinya dibuka tentu memudahkan para index provider untuk kemudian meng-exclude bagian tertentu yang semula mungkin merupakan self-claim adanya bagian free float yang rupanya setelah dibuka tidak menjadi bagian free float tertentu," ujarnya.

Berikut daftar 6 saham Indonesia yang dihapus dari MSCI Global Standard Index:

1. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
2. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
3. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
4. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
5. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
6. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

Meski didepak dari MSCI Global Standard Index, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) tidak sepenuhnya keluar dari ekosistem indeks MSCI. Raksasa ritel dengan merek Alfamart tersebut turun kelas ke MSCI Global Small Cap Index.

Berikut daftar 13 saham RI yang dihapus dari MSCI Global Small Cap Index:

1. Aneka Tambang (ANTM)
2. Astra Agro Lestari (AALI)
3. Bank Aladin Syariah (BANK)
4. Bumi Serpong Damai (BSDE)
5. Dharma Satya Nusantara (DSNG)
6. Industri Jamu Farmasi Sido Muncul (SIDO)
7. Midi Utama Indonesia (MIDI)
8. Mitra Keluarga Karyasehat (MIKA)
9. MNC Digital Entertainment (MSIN)
10. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM)
11. Pacific Strategic Financial (APIC)
12. Sawit Sumbermas Sarana (SSMS)
13. Triputra Agro Persada (TAPG)

[Gambas:Video CNN]

(dhz/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi