Jakarta -
Kolagen belakangan populer sebagai zat yang dikenal dapat membuat kulit lebih sehat. Popularitas kolagen ditandai dengan banyaknya produk suplemen untuk kesehatan dan kecantikan yang beredar di pasaran.
Kolagen kemudian tidak hanya hadir dalam bentuk suplemen, tetapi juga dalam berbagai produk kuliner seperti minuman hingga kaldu tulang yang diklaim kaya kolagen.
Kolagen sebenarnya merupakan protein alami yang diproduksi oleh tubuh dengan peran penting untuk menjaga struktur kulit, elastisitas, serta kekuatan jaringan tubuh.
Selain kesehatan kulit, kolagen juga berperan untuk mendukung kesehatan sendi dan tulang, membantu pembentukan otot, hingga mempercepat penyembuhan luka dan melindungi tubuh.
Meski demikian, produksi kolagen akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Faktor lain seperti paparan sinar matahari, pola makan, hingga gaya hidup juga bisa mempercepat penurunan produksi zat ini.
Oleh karena itu, banyak orang yang berusaha menjaga produksi kolagen dengan mengonsumsi berbagai suplemen yang mengandung zat tersebut. Namun benarkah mengonsumsi kolagen dari suplemen punya pengaruh pada tubuh atau hanya sekadar tren?
Sebuah penelitian yang dilaporkan Independent UK menyebut bahwa hampir delapan ribu partisipan menunjukkan hasil yang cenderung positif dari konsumsi suplemen kolagen meski tak sepenuhnya konsisten.
Selain itu, manfaat yang didapat seperti elastisitas kulit hingga pengurangan nyeri sendi tak terjadi secara instan. Efek positif ini cenderung muncul secara bertahap dan membutuhkan konsumsi rutin dalam jangka waktu tertentu.
Sementara pada penelitian lain, peningkatan hidrasi kulit meningkat secara signifikan usai konsumsi kolagen secara rutin, tetapi elastisitas justru lebih rendah. Hal ini menandakan bahwa penelitian soal efek kolagen masih terus berkembang.
Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas kolagen adalah jenis dan bentuknya. Kolagen dalam suplemen umumnya berbentuk peptide kolagen, yakni protein yang telah dipecah menjadi lebih kecil sehingga lebih mudah diserap tubuh.
Sementara kolagen dari makanan biasa belum tentu bisa terserap dengan efisiensi yang sama. Hal ini menyebabkan penyerapan kolagen dari masing-masing sumber punya efektivitas yang berbeda.
Gaya hidup juga menjadi hal yang mempengaruhi efektivitas kolagen. Kebiasaan terpapar matahari hingga kualitas tidur bisa membuat manfaat kolagen berbeda pada tiap individu. Meski kini menjadi tren untuk mengonsumsi suplemen kolagen, efektivitas kebiasaan ini masih dalam penelitian.
(asw/fik)
Loading ...

2 hours ago
1










































