CNN Indonesia
Kamis, 23 Apr 2026 18:45 WIB
Ilustrasi. Penyebaran demam berdarah di lingkungan pekerja semakin tinggi. (REUTERS/Rodolfo Buhrer)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lonjakan kasus dengue kembali menjadi perhatian. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat, hingga 14 April 2026, terdapat 30.465 kasus infeksi dengue di Tanah Air dengan incidence rate (IR) sebesar 10,6 per 100.000 penduduk. Dalam periode yang sama, tercatat 79 kematian dengan case fatality rate (CFR) sebesar 0,3 persen.
Jika dilihat dari klasifikasi klinis, kasus tersebut terdiri dari 10.138 demam dengue (DD), 19.877 demam berdarah dengue (DBD), serta 450 kasus dengue shock syndrome (DSS). Penyebarannya pun luas, menjangkau 401 kabupaten/kota di 29 provinsi, dengan laporan kematian dari 58 kabupaten/kota di 20 provinsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka ini menunjukkan bahwa dengue masih menjadi ancaman nyata yang belum sepenuhnya terkendali.
Kelompok usia produktif menjadi salah satu yang paling terdampak. Selain berisiko mengalami gangguan kesehatan, infeksi dengue juga dapat mengganggu produktivitas kerja hingga berdampak pada lingkungan keluarga.
Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, Prima Yosephine menegaskan bahwa dengue masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
"Pencegahan perlu dilakukan secara terintegrasi, mulai dari edukasi, pengendalian vektor, hingga kolaborasi lintas sektor. Saat ini Kementerian Kesehatan juga tengah menyiapkan tindak lanjut dari Strategi Nasional Penanggulangan Dengue ke dalam Rencana Aksi Nasional," ujarnya dalam keterangannya, Kamis (23/4).
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat implementasi pengendalian dengue secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, upaya pencegahan melalui vaksinasi dengue belum sepenuhnya diterima. Sebuah studi pada pekerja kantoran di Indonesia menunjukkan masih adanya keraguan terhadap vaksinasi, dengan faktor biaya menjadi salah satu pertimbangan utama.
Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan literasi kesehatan dan akses terhadap layanan pencegahan masih menjadi pekerjaan rumah. Pendekatan yang lebih tepat sasaran diperlukan untuk membangun kepercayaan sekaligus memastikan perlindungan yang merata.
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Indonesia (PERDOKI), Agustina Puspitasari menekankan pentingnya upaya preventif di tempat kerja, termasuk program imunisasi bagi pekerja.
Menurutnya, dampak dengue tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga meluas ke keluarga dan lingkungan kerja. Proses pemulihan yang tidak singkat dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan peran pekerja.
"Upaya pencegahan perlu diperkuat secara komprehensif, termasuk edukasi dan pengendalian faktor risiko di lingkungan kerja, agar pekerja tetap sehat dan produktif," jelasnya.
Dari perspektif ketenagakerjaan, dengue kini juga dipandang sebagai bagian dari keselamatan dan kesehatan kerja (K3). Direktur Bina Pengujian K3 Kementerian Ketenagakerjaan RI, M. Yusuf, menilai tempat kerja dapat menjadi lokasi risiko penularan jika tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, perusahaan didorong untuk menerapkan langkah sistematis seperti menjaga higiene dan sanitasi lingkungan, menjalankan program pemberantasan sarang nyamuk secara rutin, serta mengintegrasikan pencegahan dengue dalam sistem manajemen K3.
Selain itu, edukasi pekerja dinilai penting agar mereka dapat berperan sebagai agen perubahan dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Perhatian juga perlu diberikan pada pekerja informal, seperti buruh bangunan, petani, dan pekerja lapangan, yang kerap memiliki akses terbatas terhadap informasi dan perlindungan kesehatan.
Dengue bukan penyakit musiman semata. Risiko penularannya dapat terjadi sepanjang tahun dan menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun gaya hidup.
Hal ini menegaskan pentingnya kesiapsiagaan yang konsisten dan kolaboratif. Pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, hingga masyarakat perlu berjalan bersama dalam menekan angka kasus.
Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, menekankan bahwa upaya pencegahan tidak cukup hanya berhenti pada kesadaran.
"Dengue masih menjadi tantangan kesehatan yang terjadi sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga dan lingkungan kerja. Karena itu, kesiapsiagaan perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang konsisten," ujarnya.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
2










































