Said Didu
FAJAR.CO.ID - Bulan Ramadan yang biasanya identik dengan suasana damai dan penuh pengendalian diri justru menjadi ajang perdebatan sengit di media sosial antara dua tokoh publik, Muhaimin Iskandar dan Muhammad Said Didu. Perbedaan pandangan mereka ini memicu diskusi luas mengenai batasan kritik dan etika komunikasi selama bulan suci.
Muhaimin Iskandar Soroti Saling Serang di Medsos saat Ramadan
Wakil Ketua DPR RI, Muhaimin Iskandar, yang dikenal dengan sapaan Cak Imin, menyoroti fenomena saling serang antarwarganet di platform digital selama Ramadan. Melalui unggahan di media sosial, ia mengekspresikan keprihatinannya atas kebiasaan tersebut yang menurutnya bertentangan dengan semangat bulan puasa.
"Ramadlan kok masih saling serang sesama hamba Alloh, di sosmed ya? Maklum kita masih hamba Alloh yang amatiran," katanya dalam unggahannya.
Said Didu Kritik Keras, Anggap Kritik terhadap Koruptor Tidak Boleh Dibatasi
Menanggapi pernyataan Muhaimin, mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, memberikan tanggapan yang cukup keras. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pihak yang dianggap merugikan negara, khususnya koruptor, tidak seharusnya dibatasi bahkan saat Ramadan.
"Menyerang perampok uang rakyat memang dilarang di bulan puasa? Itu kan kelakuan setan. Mereka bukan hanya diserang, harusnya malah dikerangkeng karena mereka itu setan yang berwujud manusia," bebernya.
Dinamika Opini Publik dan Etika Berkomunikasi di Bulan Suci
Perdebatan ini memicu reaksi beragam di kalangan warganet. Sebagian mendukung pandangan Said Didu bahwa kritik terhadap korupsi harus tetap dilakukan kapan pun, sementara sebagian lain merasa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk menahan diri dari konflik dan perdebatan yang tidak produktif.

















































