Poin-poin Pertemuan Menlu China-Iran saat Situasi Tegang di Hormuz

21 hours ago 10
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menlu China Wang Yi bertemu di Beijing pada Rabu (6/5), di tengah ketegangan di Timur Tengah.

Lawatan ini merupakan kali pertama bagi Araghchi sejak Amerika Serikat dan sekutu dekatnya Israel menggempur habis-habisan Iran sejak 28 Februari. Sebelum bertemu, keduanya sempat berdiskusi via telepon setidaknya tiga kali selama periode perang.

Dalam pertemuan itu, Araghchi mengatakan China merupakan sahabat Iran serta memiliki hubungan "bilateral yang lebih kuat" saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut poin-poin dalam pertemuan Menlu Iran dan China di Beijing saat Timur Tengah meradang.

Menegaskan kembali hubungan Iran dengan China

Di pertemuan tersebut, Araghchi menegaskan Iran akan menjalin kerja sama lebih erat dengan China.

"Kerja sama akan lebih kuat di tengah situasi saat ini," ujar Menlu Iran itu.

Sikap Iran soal perang dengan AS

Araghchi juga menegaskan posisi Iran di tengah upaya negosiasi dengan Amerika Serikat. Ia menekankan tak akan meneken perjanjian apapun yang merugikan negara Timur Tengah ini.

"Kami akan melakukan yang terbaik untuk melindungi hak dan kepentingan sah kami dalam negosiasi," kata Araghchi, dikutip Al Jazeera.

Dia lalu berujar, "Kami hanya menerima kesepakatan yang adil dan komprehensif."

China minta Iran-AS buka Selat Hormuz

Dalam rilis resmi Kementerian Luar Negeri China, Wang Yi meminta Iran dan AS membuka Selat Hormuz.

Iran menutup rute tersebut pada awal Maret imbas operasi brutal AS dan Israel. China, lanjut pernyataan Kemlu, juga mendesak penghentian pertempuran secepat mungkin dan negosiasi harus terus dilanjutkan.

"China menganggap penghentian pertempuran secara menyeluruh harus tercapai tanpa penundaan, bahwa memulai kembali permusuhan adalah hal yang tak bisa diterima, dan melanjutkan negosiasi tetap penting," imbuh Kemlu China.

AS dan Iran sempat negosiasi pada pertengahan April lalu usai mengumumkan gencatan senjata dua pekan. Namun, perundingan ini berakhir buntu.

AS ingin Iran mengakhiri program nuklir dan menyerahkan uranium yang sudah diperkaya, tetapi Teheran menolaknya. Mereka juga ingin Washington menghormati hak memperkaya uranium.

(isa/dna)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi