FAJAR.CO.ID - Industri game Indonesia menghadapi ancaman serius berupa relokasi studio ke luar negeri akibat kebijakan pajak yang dianggap tidak memahami karakter unik sektor digital ini. Krisis regulasi yang tidak adaptif memicu kegelisahan pelaku industri, termasuk Kris Antoni, pendiri Toge Productions, yang bahkan mempertimbangkan memindahkan studionya ke Malaysia demi mendapatkan insentif yang lebih ramah.
Karakteristik Industri Game dan Tantangan Regulasi
Industri game bukan sekadar hiburan, melainkan bagian krusial dari ekonomi kreatif berbasis teknologi dengan potensi ekspor tinggi. Model bisnisnya berbeda jauh dari bisnis konvensional. Biaya produksi besar di tahap awal meliputi riset, desain, dan pengembangan, tanpa jaminan langsung balik modal. Pendapatan sangat fluktuatif dan bergantung pada pasar global, sementara distribusi dilakukan melalui platform digital lintas negara.
Kebijakan pajak yang dirancang untuk sektor perdagangan tradisional kerap kali tidak relevan jika diterapkan secara mentah pada industri digital. Krisis ini menimbulkan risiko besar terhadap keberlangsungan ekosistem game lokal.
Risiko Brain Drain dan Dampak Ekosistem
Ketika regulasi dianggap tidak mendukung, dampaknya meluas bukan hanya pada satu perusahaan. Talenta kreatif berpotensi pindah ke luar negeri, sementara studio lokal membuka kantor di negara-negara dengan insentif lebih kompetitif. Negara-negara Asia Tenggara berlomba-lomba menawarkan tax holiday, grant pengembangan, dan subsidi riset untuk menarik industri game.
Jika Indonesia tidak mampu beradaptasi, posisi kita sebagai produsen bisa tergeser menjadi sekadar pasar konsumsi produk digital. Kris Antoni menegaskan bahwa "Jika regulasi tidak berubah, kami akan mempertimbangkan relokasi studio ke Malaysia," katanya saat ditemui di Jakarta.

















































