Muhammad Riskzky
Oleh: Muhammad Riskzky
fAJAR.CO.ID, OPINI -- Bulan ramadhan yang merupakan bulan kesembilan dalam kalender islam memiliki makna yang mendapat bagi umat muslim di seluruh dunia. Puasa seringkali dipandang sebagai cara untuk mendapatkan ketenangan batin. Sebagian juga menjadikan puasa di bulan ramadhan dalam meningkatkan toleransi, disipin hingga memperdalam ilmu agama.
Puasa dalam konteks psikologi merupakan sebuah kondisi pembatasan respon emosional. Menahan godaan makan, minum dan perbuatan yang membatalkan puasa lainnya dapat memicu emosi. Ketika godaan itu ditunda, akan memicu ketidaknyamanan. Dan disinilah cara kita dalam merespon kondisi ketidaknyamanan tersebut sebagai latihan dalam mengelola emosi.
Puasa memiliki banyak makna dan manfaat dalam meningkatkan kesehatan mental seseorang. Tulisan ini tidak mengglorifikasi, namun mencoba melihat sisi positif berdasarkan penelitian yang dipublikasikan.
Pembatasan yang disengaja
Sudah banyak penelitian psikologi yang mencoba mengaitkan manfaat puasa terhadap peningkatan kualitas mental. Puasa dalam arti psikologi dilihat sebagai bentuk intentional deprivation, yakni pembatasan yang disengaja. Bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, lebih dari itu puasa juga merupakan latihan untuk menahan impuls.
Penelitian yang dilakukan oleh Ahmed bersama 5 peneliti lainnya menemukan bahwa puasa di bulan ramadhan terbukti menurunkan kecemasan bahkan depresi. Penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 ini itu juga menemukan bahwa orang yang berpuasa menngungkap suasana hati yang lebih baik.


















































