Purbaya Berandai-andai Kapal Lewat Selat Malaka Dipungut Biaya

12 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa berandai-andai kapal yang melintasi Selat Malaka dikenakan biaya seperti yang berlaku di Selat Hormuz. Ia menyinggung posisi Indonesia yang berada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia.

Mengutip arahan Presiden Prabowo Subianto, Purbaya mengatakan Indonesia bukan negara pinggiran karena berada di lintasan strategis pelayaran global, yaitu Selat Malaka.

"Arahan presiden, Indonesia ini bukan negara pinggiran. Kita ada di jalur strategis perdagangan dan energi dunia," kata Purbaya ketika memberi sambutan dalam acara Simposium PT SMI di Hotel AYANA Midplaza, Jakarta, Rabu (22/4).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Purbaya menyebut saat ini kapal yang melintasi Selat Malaka tidak dikenakan pungutan biaya. Ia kemudian menyinggung kebijakan Iran yang mengenakan biaya bagi kapal yang melewati Selat Hormuz.

Setelah menutup Selat Hormuz selama perang dengan Amerika Serikat dan Israel, Iran kini menerapkan "tarif tol" bagi kapal tanker yang melintas. Mereka menggunakan mata uang Yuan.

"Kapal lewat Selat Malaka enggak kita charge. Sekarang Iran menge-charge (memungut biaya ke) kapal lewat Selat Hormuz," ujar Purbaya.

Ia lalu berandai-andai jika Indonesia, Malaysia, dan Singapura bersama-sama memungut biaya kapal yang melintas. Menurut dia, pendapatan tersebut bisa dibagi tiga.

Purbaya bahkan memperkirakan pembagian bisa lebih besar untuk Indonesia dan Malaysia, sedangkan Singapura lebih kecil karena negaranya lebih kecil. Namun, ia menegaskan hal tersebut hanya sebatas ilustrasi.

"Kalau kita bagi tiga, Indonesia, Malaysia, dan Singapura lumayan kan. Singapura kecil, Malaysia sama kita bagi dua lah. Kalau bisa seperti itu, tapi kan enggak begitu," ucap Purbaya.

Prabowo menyinggung soal Selat Malaka saat Rapat Kerja Pemerintah Anggota Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (8/4).

Prabowo kala itu menyoroti pentingnya posisi geografis Indonesia dalam rantai pasok energi global saat menyinggung peran Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah.

Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang berdampak pada distribusi energi dan perdagangan internasional.

Prabowo menjelaskan satu jalur sempit seperti Selat Hormuz dapat memengaruhi banyak negara karena menjadi penentu distribusi energi dunia.

"Sekarang perang di Timur Tengah itu membuktikan satu selat, Selat Hormuz, itu menentukan hidupnya banyak bangsa, menentukan harga minyak," ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan betapa strategisnya jalur laut dalam menentukan stabilitas energi global. Selat Hormuz yang lebarnya sekitar 33 mil atau 60 kilometer disebutnya menjadi titik krusial yang saat ini berada dalam kendali satu negara.

Namun, Sang Kepala Negara mengingatkan Indonesia juga memiliki posisi yang tidak kalah penting dalam jalur perdagangan dan energi dunia, khususnya bagi negara-negara di kawasan Asia Timur.

"Sadarkah kita bahwa 70 persen kebutuhan energi Asia Timur dan perdagangan lewat laut Indonesia? Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Makassar itu laut Indonesia," kata Prabowo

Menurut Prabowo, sebagian besar pasokan energi untuk negara seperti Jepang, Korea Selatan, Taiwan, hingga China melewati perairan Indonesia. Hal ini membuat posisi Indonesia menjadi sangat strategis dan terus menjadi perhatian dunia internasional.

"Betapa pentingnya Indonesia, betapa kuncinya Indonesia. Karena pentingnya peran kita, maka kita harus memimpin bangsa ini dengan baik," ujarnya.

[Gambas:Youtube]

(dhz/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi