CNN Indonesia
Jumat, 29 Mei 2026 19:45 WIB
Ilustrasi. Sekilas sama, tapi ternyata soft parenting berbeda dengan gentle parenting. (Narita Fuji Triani)
Jakarta, CNN Indonesia --
Soft parenting dan gentle parenting kerap dianggap sama karena sama-sama menerapkan empati dan kedekatan emosional antara orang tua dan anak, padahal keduanya memiliki perbedaan terutama dalam hal batasan dan disiplin.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan pengasuhan dengan empati semakin populer, terutama di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental anak.
Banyak orang tua mulai meninggalkan pola asuh otoriter dan beralih ke pendekatan yang lebih lembut, tanpa hukuman keras atau bentakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, muncul kebingungan antara dua istilah yang sekilas terdengar serupa. Soft parenting sering dianggap sebagai versi lain dari gentle parenting, padahal keduanya bisa menghasilkan pola asuh yang sangat berbeda.
Apa itu soft parenting dan gentle parenting?
Melansir dari Parents, soft parenting merupakan orang tua yang berusaha memahami dan memvalidasi perasaan anak dalam hampir semua situasi, bahkan ketika anak menunjukkan perilaku yang kurang tepat.
Pola asuh ini cenderung menghindari konflik. Orang tua jarang mengatakan "tidak" dan lebih memilih mengikuti keinginan anak agar suasana tetap tenang.
Meski terlihat penuh kasih, pendekatan ini berisiko membuat anak kesulitan memahami batasan. Tanpa struktur yang jelas, anak bisa tumbuh tanpa kemampuan regulasi diri yang kuat.
Sementara itu, gentle parenting tetap mengedepankan empati, tetapi diimbangi dengan batasan yang jelas dan konsisten. Orang tua tetap menghargai perasaan anak, namun tidak mengorbankan aturan yang sudah ditetapkan.
Mengutip dari Times of India, gentle parenting berfokus pada mengenali perasaan anak sekaligus membimbing mereka ke arah yang benar dengan cara yang lembut dan tegas.
Pendekatan ini menekankan disiplin yang tidak menerapkan hukuman, tapi pembelajaran. Anak diajak memahami konsekuensi dari perilakunya dan dilatih untuk mengelola emosi dengan cara yang sehat.
Dalam gentle parenting, orang tua tetap memegang peran sebagai pengarah. Struktur seperti jadwal makan, waktu tidur, dan aturan perilaku tetap dijaga untuk memberikan rasa aman bagi anak.
Beda soal batasan
Perbedaan paling mencolok antara soft parenting dan gentle parenting terletak pada batasan.
Soft parenting cenderung mengutamakan perasaan anak hingga mengorbankan aturan. Sementara itu, gentle parenting berusaha menyeimbangkan empati dengan konsistensi dalam mendidik.
Selain itu, soft parenting bisa membuat rumah tangga lebih "child led" atau dipimpin oleh keinginan anak. Sebaliknya, gentle parenting tetap "parent led" yakni, orang tua memberikan arahan yang jelas tanpa mengabaikan kebutuhan emosional anak.
Anak yang dibesarkan dengan pendekatan terlalu longgar berpotensi mengalami kesulitan dalam memahami batas sosial, seperti aturan di sekolah atau lingkungan pertemanan. Mereka juga bisa lebih sulit mengatur emosi ketika menghadapi penolakan.
Sebaliknya, pendekatan yang seimbang antara empati dan batasan membantu anak mengembangkan kecerdasan emosional sekaligus tanggung jawab. Anak belajar bahwa perasaan mereka valid, tetapi tetap ada aturan yang harus dihormati.
Meski berbeda, kedua pendekatan ini tidak harus dipertentangkan. Banyak ahli menyarankan untuk mengambil sisi positif dari keduanya.
Ilustrasi. Baik soft parenting maupun gentle parenting tidak perlu diperdebatkan mana yang lebih baik. Orang tua bisa mengambil sisi positif dari keduanya. (Freepik.com/Primagefactory)
Empati dan validasi emosi dari soft parenting bisa dipertahankan, sementara konsistensi dari gentle parenting tetap diterapkan. Dengan cara ini, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang hangat sekaligus terarah. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain,
- mendengarkan anak secara aktif,
- memberikan konsekuensi yang jelas tanpa hukuman keras, dan
- menjaga rutinitas harian yang konsisten.
Pola asuh yang efektif bukan hanya tentang menjadi lembut atau tegas, tetapi tentang menemukan keseimbangan. Anak tidak hanya membutuhkan kasih sayang, tetapi juga batasan yang membantu mereka tumbuh menjadi individu yang mampu memahami dunia di sekitarnya.
(nga/els)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
1
















































