Studi Ungkap Sering Duduk Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

19 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perilaku kurang gerak termasuk sering duduk, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung.

Penelitian ini menunjukkan terlalu banyak duduk berhubungan dengan lonjakan risiko gagal jantung dan kematian akibat penyakit kardiovaskular hingga 40-60 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Temuan tersebut berasal dari peneliti Mass General Brigham (MGB), yang mendapati risiko meningkat signifikan saat perilaku kurang gerak melebihi 10,6 jam per hari.

Dalam penelitian ini, perilaku kurang gerak atau sedentary didefinisikan sebagai aktivitas saat terjaga dengan pengeluaran energi rendah, seperti duduk atau berbaring, tapi tidak termasuk waktu tidur malam.

Sering duduk tingkatkan risiko penyakit jantung

Ilustrasi keluhan kesehatan organ internalIlustrasi. Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa perilaku kurang gerak termasuk sering duduk, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung. (iStock/patrickheagney)

Dalam hasil studi yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology menurut para peneliti, aktivitas fisik sedang hingga berat belum tentu cukup untuk menekankan risiko penyakit jantung, jika seseorang masih menghabiskan terlalu banyak waktu duduk.

"Banyak dari kita menghabiskan sebagian besar waktu saat terjaga dengan duduk. Meski sudah banyak bukti tentang pentingnya aktivitas fisik, dampak dari terlalu banyak duduk belum sepenuhnya dipahami," kata penulis utama studi, Ezimamaka Ajufo, peneliti kardiologi di Brigham and Women's Hospital.

Ia menjelaskan risiko gaya hidup tidak aktif bergerak tetap ada, bahkan pada orang yang aktif secara fisik, seperti dikutip dari Harvard Gazette.

"Banyak orang yang berpikir olahraga di akhir hari bisa menebus kebiasaan duduk seharian. Akan tetapi, temuan kami menunjukkan masalahnya lebih kompleks dari itu," terang Ajufo.

Orang yang rutin berolahraga juga berisiko

Dalam penelitian ini, tim MBG menganalisis data pelacak aktivitas selama satu minggu dari 89.530 peserta kohort prospektif UK Biobank.

Penelitian menilai hubungan antara waktu duduk harian dengan risiko empat penyakit kardiovaskular utama, yakni fibrilasi atrium, serangan jantung, gagal jantung, serta kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Algoritma pembelajaran mesin digunakan untuk mengklasifikasikan perilaku sedentary para peserta. Hasilnya menunjukkan sejumlah dampak negatif perilaku ini tetap muncul.

Artinya meski responden telah memenuhi rekomendasi aktivitas fisik, yakni minimal 150 menit aktivitas sedang hingga berat per minggu, risiko penyakit jantung tetap ada.

Risiko fibrilasi atrium dan serangan jantung memang bisa ditekan dengan olahraga. Namun, risiko gagal jantung dan kematian kardiovaskular hanya berkurang sebagian.

"Data kami mendukung bahwa mengurangi waktu duduk dan lebih banyak bergerak sangat penting untuk menurunkan risiko penyakit jantung, terutama gagal jantung dan kematian kardiovaskular," kata penulis senior Shaan Khurshid, ahli elektrofisiologi di Massachusetts General Hospital.

Para peneliti berharap temuan ini dapat menjadi dasar penyusunan pedoman dan strategi kesehatan masyarakat ke depan.

Mereka juga mendorong adanya studi lanjutan untuk menguji intervensi, yang membantu masyarakat mengurangi waktu duduk dan dampaknya terhadap kesehatan jantung.

"Olahraga memang sangat penting, tetapi menghindari duduk terlalu lama tampaknya sama krusialnya," kata penulis senior lainnya, Patrick Ellinor, ahli jantung dan Direktur Pusat Jantung Corrigan Minehan di Massachusetts General Hospital.

Para peneliti berharap, penelitian ini bisa memberi pilihan baru bagi pasien dan tenaga kesehatan dalam menjaga kesehatan kardiovaskular.

(juh)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Berita Olahraga Berita Pemerintahan Berita Otomotif Berita International Berita Dunia Entertainment Berita Teknologi Berita Ekonomi