Sejumlah siswa-siswi mengumpulkan makanan MBG yang tersisa. Hal seperti ini banyak terjadi di sejumlah sekolah.
Fajar.co.id, Jakarta -- Seorang siswi SMP menjadi sorotan publik setelah mengaku mengalami intimidasi akibat konten kritiknya terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kisah ini diungkap oleh penulis sekaligus diaspora Indonesia yang bermukim di Belanda, Dimas Budi Prasetyo, melalui akun media sosial pribadinya, Jumat (27/2/2026).
Dalam unggahannya, Dimas mengaku heran sekaligus geram mengetahui seorang anak seusia SMP harus menghadapi tekanan hanya karena menyampaikan pendapat.
“Adik yang bernama Charissa Putri atau yang akrab disapa Caca ini baru menginjak usia SMP. Tetapi dengan usianya yang belia, dia sudah rajin membuat konten, terutama soal MBG,” tulis Dimas.
Menurutnya, konten yang dibuat Caca dikemas dengan cara yang rapi dan tidak tendensius. Alih-alih bernada provokatif, kritik yang disampaikan justru dibalut dengan gaya humor khas remaja.
“Melihat kontennya, saya senang. Anak ini pintar dan kritis,” ujar Dimas.
Kehebohan bermula ketika Dimas menemukan komentar Caca dalam unggahan, dokter dan ahli gizi yang dikenal vokal mengkritik MBG. Dalam kolom komentar tersebut, Caca mengaku mendapat intimidasi atas konten-konten yang ia buat.
Dimas pun mengecam keras dugaan intimidasi terhadap anak di bawah umur tersebut. Ia menilai kritik, terlebih dari seorang anak, seharusnya dijawab dengan evaluasi, bukan ancaman.
“Kalau sampai bocah mengkritik kalian, ya kalian itu lakukan perbaikan, bukan malah mengancam itu bocah,” tegasnya.
Polemik MBG di Media Sosial
Belakangan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ramai diperbincangkan, terutama sejak pembagian menu pada bulan puasa. Media sosial dipenuhi unggahan yang menyoroti menu yang dinilai tidak sesuai standar maupun anggaran yang dialokasikan.

















































